Category: Belajar Kehidupan

MUSLIMAH PENGHUNI DUA SYURGA

http://biomastory.files.wordpress.com/2011/12/46.jpg

Dulu, saat masih kuliah S.1 di Jurusan Hadits, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo ia pernah ditawarkan dengan seorang mahasiswi oleh temannya yang telah menikah. Tapi saat itu ia menolak tawaran tersebut. Obsesinya untuk menyelesaikan S.2 lebih kuat mengalahkan keinginan untuk menikah. Namun kini, ia merasa dirinya harus segera menyempurnakan separuh agamanya. Ia membutuhkan seorang pendamping yang menjadi tempatnya berlabuh dan menumpahkan berbagai cerita dan gelisah jiwanya. Apalagi desakan dari Ibunya membuatnya tidak lagi bisa berdiam diri.

Ia sendiri heran, kenapa dorongan untuk menikah serasa kuat menyesak di rongga dadanya. Apakah saatnya telah tiba? Ia mencoba untuk banyak berpuasa, tapi puasa itu seakan tak mampu menundukkan gejolak itu. Berat. Hampir setiap malam ia menangis. Mengadukan perasaannya pada Sang Pencipta. Menumpahkan segala sesak di dada. Ia berdoa dalam tahajudnya yang panjang. Mengharap belas kasih dan curahan rahmat dari Sang Pemilik Jiwa.

“Selamat ya Fuad atas prestasi yang kamu raih dalam lomba Jaizah Dubes kemaren. Kapan jadi berangkat ke Australia?” Sapa Ustadz Jalal pada Fuad ketika Fuad berkunjung ke rumahnya.

“Insya Allah tanggal 14 Juli nanti, Ustadz.”

“Insya Allah, semoga urusannya lancar dan perjalanan kamu diberkahi Allah.”

“Amin, syukran doanya Ustadz.”

“Sama-sama akhi. Apa kesibukan kamu sekarang?”

“Fokus merampungkan Tesis S.2. Saya punya target tahun depan sudah bisa di-munaqasyahkan, insya Allah.”

“Insya Allah, akhi. Saya kagum dengan semangat dan kegigihanmu menuntut ilmu. Dalam usia yang masih muda, kamu akan menyelesaikan S.2-mu.”

“Biasa saja Ustadz. Belum sepadan dengan prestasi yang pernah Ustadz raih,” balas Fuad penuh senyum.

“Kamu terlalu merendah Akhi, saya senang bisa mengenalmu. Jarang lho di Al-Azhar ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan S.2-nya pada usia 26 tahun.”

“Seharusnya saya yang merasa senang bisa berkenalan dengan kandidat Doktor Jurusan Tafsir di Universitas Al-Azhar,” jawab Fuad tak mau kalah.

“Ah, kamu terlalu berlebihan memuji saya akhi. Begini Akhi, mungkin lansung saja ya pada inti pembicaraan. Saya diberi amanah oleh kakak saya di Indonesia untuk mencarikan calon suami untuk anaknya. Selama ini saya mengamati mahasiswa-mahasiswa yang saya kenal termasuk akhi. Setelah saya coba pikirkan dan bicarakan dengan istri saya, saya melihat akhi orang yang tepat.”

“Afwan Ustadz, saya kira Ustadz keliru dan terlalu berlebihan menilai saya. Saya hanya orang yang biasa saja.”

“Tidak Akhi. Penilaian ini bukan asal-asalan. Tapi setelah sekian lama saya mengamati kehidupan Akhi. Kalau akhi berminat dan telah punya keinginan untuk menikah, kita bisa bicarakan lebih lanjut.”

“Apakah calon yang wanitanya di Indonesia Ustadz?”

“Tidak, dia kuliah di Jurusan Syariah Islamiyah, tingkat tiga.”

“Apa saya mengenalnya Ustadz?”

“Mungkin tidak. Sangat beda dengan akhi, kalau akhi seorang aktivis dia sebaliknya. Tidak banyak yang mengenalnya.”

“Apa dia sendiri telah siap menikah Ustadz?”

“Insya Allah, kalau dia gak ada masalah. Ia selalu menuruti keinginan orang tuanya. Dia anak yang penurut. Kalau akhi bagaimana, apa sudah punya calon?”

“Belum Ustadz.”

“Berarti pas sekali,” tanggap Ustadz Jalal penuh riang dan menunjukkan wajah cerah.

“Tapi Ustadz, saya butuh waktu untuk mencerna dan mempertimbangkannya. Saya belum bisa memberi jawaban sekarang. Saya butuh waktu seminggu untuk memberi jawaban pada Ustadz.”

“Tidak mengapa akhi. Saya bisa maklum. Silahkan ditimbang dulu dengan matang. Jika akhi menyetujui saya sangat senang sekali. Namun bila sebaliknya, tidak mengapa, saya akan mencoba menawarkan pada yang lain.”

“Insya Allah Ustadz, akan saya istikharahkan pada Allah, semoga Allah menunjukkan yang terbaik, amin.”

“Amin.”

“Alhamdulillah, akhirnya amanah ini tersampaikan juga. Saya sangat senang sekali. Selamat Fuad kamu akan menikah sebentar lagi.”

“Doanya Ustadz, semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan baik.”

“Amin, semoga Allah selalu memberkahi kalian nantinya, amin. Fuad, ada satu hal yang sangat penting untuk kamu ketahui, calon istrimu itu cacat.”

Fuad sangat terkejut.

“Cacat maksud Ustadz bagaimana?”

“Cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan dan kedua kaki. Terkadang sering berbicara sendiri dan juga sering menangis tanpa sebab. Bagaimana, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?”

Fuad diam sejenak. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia menjawab.

“Insya Allah, saya siap Ustadz,” jawabnya dengan mantap.

“Ini keputusanmu?”

“Ini bukan keputusan saya Ustadz, tapi keputusan Allah. Saya telah meng-istikharahkan dan saya rasakan hati saya mantap dan teguh dengan pilihan ini. Saya yakin Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk saya.”

“Apa kamu tidak menyesal dengan pilihan yang telah kamu ambil?”

“Tidak Ustadz, sama sekali tidak. Bagi saya, pilihan Allah lebih baik dan mulia. Walau secara zahir itu berat dan mungkin menyakitkan, tapi saya rela dan ikhlas. Insya Allah ada pahala dan kebaikan disana menanti. Saya teringat ketika Nabi Ibrahim harus dilemparkan ke dalam api, saat itu beliau tidak gusar dan tidak takut sedikitpun, karena Allah selalu bersama hamba-Nya yang berserah pada-Nya. Atau ketika Nabi Ibrahim harus meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus demi memenuhi seruan Allah.”

“Saya kagum dan bangga padamu Fuad. Sebenarnya sejak awal saya ingin menceritakan padamu kondisi calonmu itu. Tapi, saat itu saya lupa untuk menyampaikannya. Maafkan atas kealpaan saya tersebut.”

“Tidak mengapa Ustadz, semuanya sudah terjadi, dan sebagai seorang hamba Allah kita wajib menerima kehendak takdir. Barangkali dalam takdir Allah saya harus menikah dengan seorang wanita yang cacat. Saya ikhlas Ustadz. Mungkin disana pula sumber pahala saya dari Allah. Berkhidmah pada hamba-Nya yang cacat.”

“Tapi apakah akhi tidak mencoba mencari wanita lain yang lebih baik dan sempurna?”

“Sebenarnya pada saat Ustdaz menawarkan anak dari kakak Ustadz pada saya, dua hari sebelumnya saya juga ditawarlan oleh teman saya, bahwa teman istrinya juga lagi mencari calon suami. Dan sebelumnya juga ada tawaran. Karena itu saya meminta pada Ustadz agar memberi saya waktu satu minggu untuk istikharah. Karena ada tiga wanita yang akan saya istikharahkan. Saya perlu waktu yang lama untuk memikirkan dan memutuskan dengan matang.”

“O begitu, saya baru paham. Kekuatan apa lagi yang menguatkan langkahmu untuk menjatuhkan pilihan pada anak kakak saya tersebut?”

“Istikharah dan mimpi kedua orang tua saya Ustadz. Kami mengalami mimpi yang sama dan merasakan ketentraman serta kemantapan hati yang sama.”

“Saya kagum padamu akhi, saya merasa tidak salah memilih dan menilai selama ini. Akhi adalah orang yang tepat. Semoga Allah merahmati hidupmu dan keluarga yang akan akhi bina nantinya, amin,” ucap Ustadz Jalal dengan wajah berbinar-binar.

Satu minggu berlalu setelah pernikahan, Fuad menemui Ustadz Jalal Fakhruddin di rumahnya, di Bawwabah Tiga.

“Bagaimana kabarnya Fuad? Kamu terlihat sangat cerah dan lebih segar sekarang.”

“Alhamdulillah Ustadz. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang Ia curahkan.”

“Ada yang ingin saya tanyakan tentang cerita Ustadz kemaren. Ustadz mengatakan bahwa istri saya cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua kaki dan tangan. Sering berbicara sendiri dan kadang suka menangis tanpa sebab. Saya telah mengetahui dua jawaban yang terakhir. Saya menyadari bahwa istri saya memang sering terlihat seolah berbicara sendiri. Awalnya saya heran. Tapi setelah saya tanyakan dan mendengar dari dekat, ia tengah berzikir, menyebut nama Allah, terkadang bershalawat pada Rasulullah, dan membaca al-Quran. Saya perhatikan ia melakukannya setiap hari, setiap waktu, tanpa henti. Sewaktu menyapu rumah, mencuci piring, menjemur pakaian, memasak, lisannya seolah tak pernah berhenti berzikir. Begitu juga saat bepergian ke luar rumah. Adapun yang Ustadz katakan, bahwa ia terkadang sering menangis tanpa sebab, saya hampir mendapati itu tiap hari juga. Ketika saya tanyakan, ia menjawab bahwa ia teringat akan dosa-dosanya pada Allah, takut jika amalnya tidak diterima, teringat azab dalam kubur, mahsyar, hari penghisaban, shirat dan siksa neraka. Jika teringat akan hal itu air matanya sering meleleh. Itulah yang saya ketahui. Sedangkan cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan serta kaki itu, saya tidak mendapatkan. Saya perhatikan semuanya baik dan sehat.”

“Akhi Fuad, alhamdulillah akhi telah menemukan jawabannya. Sedangkan maksud saya cacat pendengaran adalah, telinganya tidak pernah mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tidak pernah mendengarkan musik dan segala lagu-lagu yang merusak iman dan jiwa. Sesungguhnya yang selalu menjadi penghibur dirinya adalah al-Quran dan nasehat-nasehat para ulama. Cacat penglihatan adalah tidak pernah melihat pada yang haram, seperti menonton film yang di dalamnya syahwat diumbar, bisa saya katakan, matanya selalu terjaga dari melihat segala hal yang mengudang dosa dan maksiat. Dan cacat lisan adalah ia tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki, baik melalui sms, telpon, chating di YM, di FB dan seterusnya. Ia sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis. Lisannya terjaga dari komunikasi dengan lawan jenis. Adapun cacat tangan adalah tidak pernah berbuat yang nista dan tercela. Sedangkan cacat kaki adalah selalu terjaga dari menempuh tempat-tempat maksiat. Selama di Mesir kakinya hanya melangkah untuk ke mesjid, majlis-majlis ilmu, bersilaturahmi, tidak pernah pergi ke warnet, mengikuti acara-acara yang di dalamnya bercampur laki-laki dan perempuan. Begitulah akhi, penjelasan singkatnya. Nanti setelah hidup lebih lama dengannya akhi akan banyak mengetahui tentang dirinya.”

“Saya bersyukur Ustadz, inilah rupanya rahasia di balik petuntuk yang Allah berikan, dan hasil dari istikharah saya selama ini dan juga mimpi saya. Saya melihat dalam mimpi sebuah cahaya yang begitu terang, meneduhkan, menyejukkan, dan beraroma harum seperti kasturi.”

Air mata Fuad menetes penuh bahagia, ia lalu bersujud syukur. Ia telah dikaruniai seorang wanita sorga yang dihadirkan Allah ke bumi. Wanita yang selalu menjadi buah bibir penduduk langit karena ketaatannya. Ia teringat dengan hadits Rasulullah. Walau di bumi istrinya tidak dikenal banyak orang tapi di langit, ia yakin istrinya selalu disebut dan didoakan oleh para malaikat.

 

Sumber: https://www.facebook.com/notes/yusuf-mansur-network/muslimah-penghuni-dua-syurga/10150225525200210

Ini Dia! 6 Sikap Istri Idaman Para Suami

Setiap pria memiliki harapan tersendiri mengenai pasangan hidupnya. Ada beberapa faktor yang diharapkan pria dari istrinya mulai dari sifat sampai kebiasaan sehari-hari. Ini dia enam sikap istri yang menjadi idaman para suami.

1. Penurut
Menurut survei yang dilakukan oleh ezinearticle, kebanyakan suami ingin memiliki istri yang selalu patuh. Mereka ingin agar semua pendapatnya didengar, kecuali jika perkataanya menyuruh istri untuk berlaku buruk. Tetapi dalam kasus tersebut, pria ingin agar istri mau menolak perkataan itu dengan baik dan penjelasan yang masuk akal.

2. Mau Berterimakasih dan Sering Memuji
Menurut para suami, mendapatkan ucapan ‘terima kasih’ serta pujian atas apa yang telah dilakukannya untuk Anda, dapat membuat dirinya merasa bahagia serta dihargai. Ada kalanya suami mengorbankan waktu, tenaga dan uang untuk membuat istrinya merasa senang atau paling tidak, merasa aman. Di saat itulah, Anda ‘wajib’ menunjukkan rasa terimakasih dan berikan perhargaan padanya.

3. Bisa Berperan Sebagai Sahabat
Selain sebagai pendamping hidup, suami ingin istrinya juga memiliki peran sebagai teman. Dalam perannya itu, suami ingin agar istri menjadi tempat berbagi kegembiraan-kesedihan, memberikan saran, dan memiliki minat yang sama. Pada kenyataannya, tidak banyak istri yang menyadari hal ini. Saat hal itu terjadi, bukannya tak mungkin jika suami jadi lebih intim ketika bersama teman-temannya dibanding ketika dengan Anda.

4. Membuatnya Menjadi Seseorang yang Lebih Baik
Di balik pria yang sukses ada wanita yang hebat. Inilah yang diinginkan oleh banyak pria, wanita yang selalu mendukung dan mendorongnya untuk menjadi individu yang lebih baik. Para suami ingin agar sang istri selalu ada di ‘belakangnya’ saat sedang berada dalam masa sulit dan mendorongnya untuk mampu mengatasi hal tersebut.

5. Pandai Mengatur Tugas Rumah Tangga
Para suami juga mengatakan bahwa memiliki istri yang mahir merawat anak, akan membuat diri mereka merasa aman saat berada di luar rumah. Selain itu, para suami juga menginginkan istri yang pandai mengatur tugas rumah tangga, mulai dari masalah kebersihan hingga makanan.

6. Pintar Mengatur Uang
Menurut suami, hal tersebut sangat membantu mereka dalam mengelola anggaran keuangan secara efektif. Selain itu, pria juga berpikir bahwa wanita memiliki kemampuan mengatur keuangan melebihi para pria.

 

Sumber: http://wolipop.detik.com/read/2013/11/28/180900/2426783/854/ini-dia-6-sikap-istri-idaman-para-suami?991104topnews

Riset: Pria yang Memiliki Istri Cantik = Pernikahan Bahagia

http://yulianurz.files.wordpress.com/2012/02/akhwat.jpg

Apa resep pernikahan bahagia? Riset terbaru mengungkapkan salah satu kunci memiliki pernikahan yang memuaskan adalah ketika istri berpenampilan menarik.

Riset yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology itu dilakukan oleh psikolog Andrea Meltzer. Andrea melakukan riset terhadap 450 pasangan pengantin baru selama empat tahun. Pertanyaan penelitiannya adalah: apakah suami atau istri cantik atau tampan mempengaruhi kepuasaan pada pernikahan?

Setelah diteliti, jawaban dari pertanyaan itu adalah, pada pria, penampilan atau wajah cantik istri berperan menentukan kepuasaan mereka pada pernikahan. Teori ini hanya berlaku pada pria, tidak untuk wanita.

Meskipun teori di atas tidak berlaku sebaliknya, para istri berpenampilan menarik juga mengaku bahagia dengan pernikahannya. Namun alasan bahagia mereka berbeda. Para istri ini merasa puas dengan pernikahan mereka karena memiliki suami yang juga bahagia.

Hasil riset Andrea ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Benjamin Karney, direktur di Relationship Institute, Universitas California. Riset dilakukan Karney sejak dia masih kuliah di Universitas Florida. Saat itu ada 82 pasangan pengantin baru yang jadi respondennya. Penelitiannya kemudian dilanjutkan ketika dia bergabung dengan Universitas California pada 2007.

Berdasarkan penelitian Karney, ketika wanita berwajah cantik menikah dengan pria yang penampilannya kurang menarik, kemungkinan pasangan itu memiliki pernikahan yang memuaskan menjadi meningkat. “Suami yang penampilannya kurang menarik ini jadi lebih berkomitmen, mereka menginvestasikan diri untuk membahagiakan istri ketika mereka merasa mendapatkan kesepakatan yang juga menarik. Karena bagi pria, kecantikan istri tersebut merupakan bagian dari kesepakatan itu,” ujarnya seperti dikutip Huffington Post.

Hal berbeda ditemukan Karney ketika si pria memiliki wajah tampan, sementara istri mereka berpenampilan kurang menarik. “Para pria ini menjadi tidak terlalu termotivasi untuk membantu istri ketika mereka merasa lebih menarik dari istri mereka,” ucapnya lagi.

 

Sumber: http://wolipop.detik.com/read/2013/11/20/083841/2417818/854/riset-pria-yang-memiliki-istri-cantik–pernikahan-bahagia

Cara Menghadapi Suami yang Egois, Tidak Mau Dengar Pendapat Istri

img

Riset menyebutkan masalah komunikasi menjadi penyebab nomer satu pasangan cerai. Riset yang dibuat oleh situs Your Tango itu melibatkan100 ahli kesehatan mental sebagai responden. Penelitian dilakukan pada 6 November dan 12 November 2013 lalu.

Dari riset itu diketahui 65% responden menyebutkan komunikasi yang menjadi penyebab paling banyak pasangan mengakhiri rumah tangga. Masalah komunikasi seperti apa yang membuat pasangan cerai? Salah satunya adalah wanita merasa kurang dihargai pendapat dan perasaannya (80%), dan wanita menganggap pasangan mereka tidak mau mendengarkan atau terlalu banyak membicarakan diri mereka sendiri (56%).

Bagaimana cara menghadapi suami yang egois seperti ini? Psikolog Ratih Ibrahim mengatakan, bukan tanpa sebab suami jadi kurang menghargai pendapat Anda. Dikatakan Ratih, kesibukan suami terkadang menyita banyak waktu di luar rumah sehingga menyebabkan ia merasa lelah karena energi yang sudah banyak terkuras.

“Pada saat suami berada di rumah (bersama dengan istri) ia merasa bahwa dirinya harus dipahami, dilayani,” ujar Ratih yang mengasuh konsultasi cinta di wolipop.

Melihat situasi tersebut, Ratih menyarankan agar para istri mengenali kapan waktu yang tepat untuk mengajak suami bicara. Apalagi jika dalam obrolan tersebut, istri bermaksud memberikan kritikan pada pasangan.

“Perhatikan juga kata-kata yang diucapkan agar suami tidak merasa disalahkan. Suami akan mudah menerima masukkan atau kritikan di saat kamu dan suami sedang bermesraan, dan lebih banyak menggunakan kata “saya” daripada “kamu”, jelas pendiri Conseling and Development Center PT Personal Growth itu.

Ratih mencontohkan, misalnya Anda hendak meminta suami agar tidak terus-menerus pulang larut malam. Kalimat yang bisa dikatakan misalnya, “saya akan sangat senang kalau kamu pulang lebih awal, sehingga kita lebih banyak waktu untuk berdua”.

Kalimat ini bisa membuat suami paham akan keinginan kita dan ia tidak merasa disalahkan. Kalimat yang tidak langsung menyalahkan suami, bisa membuatnya sadar diri. Sehingga hubungan dengan suami ke depannya juga dapat terjalin lebih baik lagi.

 

 

Sumber: http://wolipop.detik.com/read/2013/11/25/093856/2422228/854/cara-menghadapi-suami-yang-egois-tidak-mau-dengar-pendapat-istri

Ini Rahasia Kaya Raya Para Miliuner Teknologi

1. Mark Zuckerberg

Sang pendiri dan CEO Facebook adalah miliuner muda terkaya di dunia. Kekayaannya tidak dicapai dalam sekejap, melainkan kombinasi dari kerja keras dan berani mencoba.

“Bergeraklah cepat. Tidak mengapa untuk mencoba sesuatu yang besar. Lebih baik Anda mencoba dan gagal, kemudian belajar dari kegagalan itu ketimbang tidak melakukan sesuatu sama sekali,” paparnya.

Zuckerberg sendiri mengawali Facebook di bangku universitas dengan modal nekat bersama teman-teman dekatnya. Ia berambisi menciptakan jejaring sosial yang besar dan akhirnya sukses besar.

“Pokoknya kamu harus bergerak cepat dan mau mencoba banyak hal,” tegasnya lagi.

2. Jeff Bezos

Dari sebuah garasi sederhana, Jeff Bezos sukses membawa Amazon menjadi website retail terbesar di dunia. Ia memiliki kekayaan USD 28,5 miliar. Luar biasa melimpah harta kepunyaannya.

“Kebanyakan orang, tapi aku tidak termasuk, percaya bahwa kita harus hidup untuk masa sekarang. Aku pikir apa yang harus kamu lakukan adalah berpikir tentang masa depanmu dan cobalah merencanakannya dengan cara yang akan membuatmu sangat puas,” tukas Bezos.

Merencanakan masa depan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak meninggalkan penyesalan, barangkali itulah inti perkataan Bezos. Dia juga memberi nasehat untuk keras kepala dan fleksibel.

“Jika kamu tidak keras kepala, kamu akan menyerah dalam suatu eksperimen terlalu cepat. Dan jika kamu tidak fleksibel, kamu tidak akan melihat solusi berbeda dari masalah yang kamu hadapi,” tambahnya.

Dalam berbisnis, Bezos juga menekankan pentingnya memahami secara detail. “Jika kamu tidak memahami bisnismu secara detail, kamu akan gagal,”.

3. Bill Gates

Berulangkali dinobatkan sebagai manusia terkaya di dunia, Bill Gates jelas berlimpah uang. Seperti apa tips kesuksesan dari bos Microsoft ini?

“Kebanyakan orang yang melakukan sesuatu dengan sangat baik telah menemukan sesuatu yang membuat mereka tergila-gila,” sebut Gates yang menekankan passion dalam suatu pekerjaan adalah sangat penting.

“Jika yang kamu lakukan adalah sesuatu yang mungkin berdampak besar, kamu juga akan merdeka secara finansial,” lanjutnya.

Dia menambahkan pula bahwa punya ambisi besar sangatlah penting. “Menjadi ambisius itu penting. Tapi kamu harus senang melakukan apa yang ingin kamu lakukan,” tambahnya lagi.

“Jangan banding-bandingkan dirimu dengan siapapun di dunia ini. Jika kamu melakukannya, berarti kamu mengina dirimu sendiri,”

4. Steve Jobs

Mendiang Steve Jobs, sang legenda di dunia teknologi dan pendiri Apple, menekankan pentingnya mengejar impian tanpa menyerah.

“Suatu hari, tidak lama dari sekarang, kamu akan menjadi tua dan ‘dibersihkan. Sori jika terlalu dramatis, namun itu kenyataan yang cukup benar,”

“Waktumu itu terbatas, jadi jangan buang untuk mencoba menjadi orang lain,” kata Jobs.

Waktu yang terbatas merujuk pada kehidupan manusia yang sebentar. Jadi harus dimanfaatkan dengan maksimal.

“Jangan biarkan pendapat orang lain menenggelamkan suara di dalam batinmu. Dan yang paling penting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu,” tambahnya.

5. Larry Ellison

Larry Ellison adalah salah satu orang terkaya di dunia teknologi berkat kesuksesan Oracle, raksasa software enterprise. Salah satu rahasia suksesnya adalah fokus dan bekerja keras.

“Aku berpikir soal bisnis sepanjang waktu. Bahkan saat aku sedang liburan atau berada di kapalku, aku selalu akses email. Aku selalu mencari di internet soal apa yang dilakukan oleh kompetitor,” tukas Ellison.

Ellison juga sangat ambisius. Ambisi utamanya adalah mengalahkan Microsoft dan menjadi produsen software terbesar di dunia.

“Aku sangat berorientasi pada tujuan. Aku suka memenangkan piala. Aku ingin Oracle menjadi perusahaan software nomor satu di dunia. Aku pikir masih mungkin untuk mengalahkan Microsoft,” tukasnya suatu ketika.

Jangan Menjadi Kodak

Kodak tutup. Bangkrut! Nokia bingung. Kehilangan pijakan. Starbucks jualan bir: “beyond coffee” kilahnya. Operator telco tambun limbung, digembosi Google atau Skype. Bank kebat-kebit karena tren “The death of cash”. Long tail champions seperti kanker menggerogoti irrelevant incumbents. Outliers seperti Zipcar atau Groupon marak layaknya jamur di musim hujan.

Bisnis kini menjadi kian sulit. Bisnis menjadi kian suram… bagi mereka-mereka yang picik dan bebal. Sebaliknya, Bisnis begitu moncer bagi visionaries. Bisnis begitu gilang-gemilang bagi para whitespace inventor.

Kini kita memasuki era yang luar biasa, “the era of billions of opportunities”. Landskap bisnis mengalami gempa tektonik yang memporak-porandakan, persis seperti digambarkan dalam film kiamat: 2012. Creative destruction terjadi di hampir seluruh industri. Killer apps bergentayangan terus mengintai mangsanya. Model bisnis lama hancur dibilas dengan bisnis model baru yang lebih cool. Dalam lanskap yang baru ini inovasi model bisnis bukan lagi kemewahan, tapi sudah menjadi mainstream.

Berikut ini adalah tiga creative destruction yang bakal memporak-porandakan bisnis Anda kini dan seterusnya. Creative destruction itu akan menjadi asset bagi Anda yang memilih menjadi pemenang, tapi menjadi liabilities bagi Anda yang memilih menjadi pecundang.

Customers Are Connected
Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, setelah ditemukannya social technologies konsumen menjadi terhubung satu sama lain membentuk jejaring (customer network). Jejaring konsumen ini berelaborasi menjadi cluster-cluster konsumen karena adanya satu minat atau tujuan yang sama (common interest) sehingga membentuk komunitas. Dengan medium jejaring sosial (social network) komunitas ini tumbuh demikian subur di mana antar anggota komunitas berinteraksi satu sama lain (melakukan conversation, engagement, cocreation).

Kalau sudah begini, maka Internet akan berisi jutaan bahkan miliaran komunitas konsumen yang saling terkoneksi dan berinteraksi satu sama lain secara natural tanpa satu pun instiusi yang bisa mengatur dan mengontrolnya. Mereka akan menjadi sebuah kekuatan massif yang sangat powerful dalam berhadapan dengan pemilik merek. Kasus “Dell Hell”, “Koin Untuk Prita”, hastag #25Jan atau #Suez dalam revolusi rakyat di Mesir, adalah sinyal-sinyal awal betapa konsumen menjadi demikian digdaya karena adanya social technologies.

Karena customer metamorphosis ini, saya confident mengatakan bahwa: “the future of marketing is community marketing”. Ketika kita berbicara community marketing maka rumus-rumus marketing secara fundamental akan berubah: dari “vertical” ke “horizontal”; dari “one to many” ke “many to many”; dari “selling” ke “facilitating”; dari “broadcasting” ke “participating”; dari “exploitative” ke “cocreative”; dari “selfish” ke “giving”.

Consumption Becomes Collaborative
Jakarta macet karena setiap orang membeli mobil. Jakarta pekat asap hitam karena setiap orang memiliki mobil. Kenapa tidak memiliki hanya satu mobil yang dipakai secara beramai-ramai (sharing) di antara katakan 10 atau 15 warga Jakarta secara bergantian. Kalau ini bisa dilakukan, maka populasi mobil di Jakarta akan kecil, kepulan asap yang disemburkan knalpot akan kecil, jalanan Jakarta lebih nggak macet. Dan kalau kemacetan dan polusi bisa dipangkas, maka manfaat sosial yang dihasilkan akan luar biasa.

Itulah ide dasar di balik apa yang disebut collaborative consumption. Ketika konsumen terkoneksi satu sama lain dan social technologies telah tersedia, maka “konsumsi berjamaah” yang dijalankan dalam peer-to-peer platform ini dimungkinkan. Model bisnis inilah yang melandasi operasi perusahaan-perusahaan masa depan seperti Zipcar, Zilok, atau Freecycle.

Dengan collaborative consumption kita tak perlu memiliki produk yang kita konsumsi: “What’s mine is ours”. Itu sebabnya model bisnis ini sangat menghemat sumber daya. Dan karena hemat sumber daya, ia menjadi solusi luar biasa bagi bumi yang kian pucat dan kurus. Collaborative consumption tak hanya berlaku untuk mobil, tapi berlaku produk dan layanan apapun. Saya meramalkan bisnis-bisnis dengan platform collaborative consumption akan menjadi deadly business model yang akan meruntuhkan banyak model bisnis tradisional yang usang dan tak relevan.

Bits Is the Killer App
Transformasi terbesar yang dihadapi umat manusia di abad 21 ini adalah revolusi dari “atoms” ke “bits”. Revolusi itu seperti tornado yang menyapu bersih apapun yang dilewati. Tornado itu membumihanguskan pecundang, sekaligus menyisakan pemenang. Google dan Facebook menjadi raksasa baru dalam waktu superkilat karena kesigapannya melalui revolusi atoms ke bits. Sebaliknya, Kodak terpaksa tutup karena tak berdaya melewati revolusi atoms ke bits. Kodak tak mulus menjalani transisi dari fotografi analog ke fotografi digital.

Bits is the killer app. Banyak korban berjatuhan karenanya. Borders “dibunuh” oleh Amazon. Toko CD “dibunuh” oleh iTunes. Penerbit cetak “dibunuh” oleh Lulu.com. Layanan interlokal “dibunuh” oleh Skype. Ensiklopedia Britanica “dibunuh” oleh Wikipedia. Koran dan majalah “dibunuh” oleh blog.

Ketika informasi dipaket dalam bentuk bits, maka informasi kemudian tersedia secara berlimpah (abundant), begitu mudah didapatkan dan dicari (findable/searchable), dan yang terpenting ia menjadi grastis (free). Ketika pengetahuan dipaket dalam bentuk bits, maka ia kemudian menjadi seperti O2 yang tersedia secara berlimpah dan gratis. “Once something becomes bits, it inevitably becomes free.” Ini memicu terciptanya model bisnis paling mematikan saat ini yaitu “free business model”.

Saya melihat, tiga fenomena di atas merupakan persoalan besar di depan mata yang harus dibereskan setiap marketer. Tiga pertanyaan tersebut tak gampang dicari jawabannya karena melibatkan perubahan rule of the game pemasaran yang begitu fundamental. Untuk melakukannya marketer harus menciptakan inner sense of urgency. Ia harus berani keluar dari zona nyaman dan berani membalas creative destruction yang menimpa industri dengan creative destruction dalam paradigma dan pendekatan pemasaran yang digunakan.

Persoalan pelik yang selalu mengiringi sebuah perubahan paradigma adalah begitu perkasanya legacy masa lampau dalam mengungkung pikiran kita. Legacy inilah yang membuat otak kita beku. Dengan beku otak kita akan menganggap resep-resep mujarap masa lalu sebagai yang terbaik dan terbenar; sementara paradigma dan pendekatan baru adalah teroris yang sedari dini harus ditumpas. Di tengah kebekuan, otak kita memerlukan rebooting untuk menjadi kanvas putih-bersih.

Hanya dengan terus belajar dan paranoid terhadap setiap perubahan kita akan menjadi brand gardener yang hebat. Kuncinya sederhana: “Jangan menjadi Kodak!!!

——————————————————————————————-

sumber: http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/16/jangan-menjadi-kodak/

Kisah Inpirasi Untuk Suami Istri

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

 

Sumber: http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

Arti Seorang Ayah Untuk Gadis Kecil

Aku mendapatkan dari status facebook dan terusterang ini membuatku terharu. Seharusnya kisah ini dalam bahasa Inggris tetapi aku lebih suka mengartikannya dalam bahasa kita, karena putriku harus ikut membacanya agar ia tahu betapa beruntungnya ia masih memiliki ayah.

Gadis kecil itu sedang bersiap-siap ke sekolah, ia menghabiskan sarapan paginya penuh semangat. Hari ini adalah hari dimana ia harus berbicara tentang ayah. Ibu kelihatan kuatir karena tahu apa yang hadapi putrinya nanti. Ia berbisik agar si kecil yang ceria tak usah masuk sekolah saja hari ini, tetapi si anak berkuncir dua itu hanya tertawa dan berkata ini’”ini kesempatan memberitahu teman-temanku siapa sebenarnya ayahku, ibu”

Mereka tiba di ruang pertemuan sekolah. Ruangan itu ramai dengan para ayah yang menemani putra-putri mereka, malah beberapa dari ibu mereka juga ikut mendampingi. Hanya si gadis kecil yang duduk bersama ibunya. Ibunya menunduk menyembunyikan kegalauan sementara si putri sibuk menyapa teman-temannya dengan riang.

Satu persatu anak-anak maju ke depan, bercerita tentang ayah mereka. Si gadis kecil memperhatikan dengan seksama membuat si ibu semakin gundah. Tangannya yang gemetar tak mampu mengusir kekuatiran menunggu giliran si gadis kecil.

Akhirnya tibalah giliran si gadis kecil. Saat ia berdiri, sang ibu sempat ragu namun si gadis kecil meraih tangannya dan mengajaknya ke depan. Mereka berjalan di tengah pandangan sinis orang-orang yang berbisik “ayah macam apa yang tak bisa menemani putrinya di hari sepenting ini.” Si ibu duduk di mana seorang ayah seharusnya duduk menemani si gadis kecil dan di depannya si gadis kecil memulai kisahnya tentang ayah.

“Ayah yang kukenal bukanlah ayah yang menemaniku bermain bola, bukan ayah yang bisa menciumku setiap saat dia inginkan, bukan ayah yang bisa kusambut ketika ia pulang kerja, juga bukan ayah yang bisa membelaku saat aku diganggu anak yang nakal, dia  juga bukan ayah yang bisa menemaniku saat aku sedang sakit, bahkan ayah tak pernah mengucapkan selamat ulang tahun untukku walaupun sekali saja. Tetapi bukan karena ayahku jahat atau terlalu mementingkan pekerjaannya, ayahku mungkin terlalu baik hingga Tuhan ingin ayah bersamaNya. Aku tak membenci Tuhan karena aku tahu Tuhan sangat sayang padaku dan Ayah, Tuhan pasti punya rencana lain untuk kami hingga ia memisahkan aku dan ayah.”

Gadis kecil terdiam dan memandang kesekelilingnya, menatap wajah-wajah di hadapannya, “Ayah memang tak pernah ada di sisiku, tapi ia menemaniku setiap saat. Setiap kali aku bersedih, aku hanya tinggal menutup mataku sejenak dan memanggil namanya. Ia akan datang meskipun cuma aku yang tahu karena hatiku merasakannya. Ketika aku rindu menatap wajahnya, foto ayah akan menemaniku dalam tidur. Ayah memang tak bisa mengajariku bermain ataupun belajar, tapi ia mengajariku menjadi anak yang mandiri karena aku tak punya ayah yang membantuku, aku belajar menjadi anak yang berani karena tak ada ayah yang membelaku, aku belajar menjadi anak berprestasi karena aku ingin ayahku bangga di surga sana, aku ingin berhasil menjadi dokter karena aku ingin ibu punya alasan untuk melanjutkan hidupnya.”

Lalu ia diam sejenak, menutup mata dan berbisik, “aku beruntung karena ada ibu yang menemaniku, yang membantuku mengenal ayah sejak aku bayi dan aku tahu ayah ada di sini, melihatku dengan senang karena aku sudah memperkenalkannya pada semua agar semua orang tahu betapa berartinya ayah bagiku. Suatu hari nanti jika aku bisa bertemu dengannya di surga, aku akan berkata aku mencintainya dan selalu bangga menjadi anaknya.”

Semoga Para ayah sekarang menyadari betapa berartinya kehadiran mereka untuk anak-anak mereka. :)
.
.
.
.
.
sumber: http://bundaiin.blogdetik.com/2011/09/26/arti-ayah-untuk-seorang-gadis-kecil/

Kritik Bahan Bakar Semangat Berkobar

Dalam berbisnis kita tidak boleh merasa puas dengan keadaan yang telah kita dapatkan.Saat Kita menemui kendala segera cari peluang yang lain”Demikian urai karib saya Yusni Aribowo,SE seorang Enterpreuner ulet dari Kota Minyak Cepu.

Obrolan pembuka suatu pagi cerah di pojok dapur Rumah Makan Pondok Lesung Asri, Padangan Bojonegoro.Sambil membakar ikan Gurame pesanan pelanggan, Pebisnis yang dikarunia enam orang anak ini berbagi kiat.

Saya bersilaturahim dengan karib kecil saya ini setelah tak bersua beberapa tahun.Kewirausahaan memang sangat lekat dengannya :Ayah, Ibu, Kakek dan semua Om nya pun memilih jalan yang sama.Like Father like son,ungkapan yang sangat cocok untuk menggambarkan pilihan hidupnya.

Setamatnya study di salahsatu Perguruan Tinggi di Jakarta, dia memilih
pulang kampung.Membantu mengurus Bisnis Bapaknya.Bermacam bisnis pun telah dirambahnya, mulai kontraktor sipil,Supplier jasa, catering, laundrey yang terakhir adalah rumah makan.

Berguru Bisnis langsung dengan sang Bapak-pun harus dilakoninya.Saat Sang Bapak dipanggil yang Maha Kuasa estafet bisnis pun berpindah. Generasi pertama meletakkan dasar bisnis membuka peluang, generasi kedua mempertahankan dan mencari terobosan untuk tetap survive.

Sang Bapak adalah kontraktor kenamaan di Cepu,berpuluh tahun menjadi rekanan Migas-Pertamina.Reputasi dan unjuk kerja menjadi jaminan atas proyek garapannya. Job mengalir dan pundi-pundi rejeki terus membanjir.

Saat Yusni duduk sebagai Nakhkoda Bisnis ,jaman berubah tantangan
berganti.Kebijakan Pemerintah mengalami banyak pergantian.Aturan tender tak seperti waktu sebelumnya, harga dipangkas.Sehingga sulit berbisnis dengan harga yang minim.

Mundur bukan berarti hancur,tak ada kata menyerah apatah lagi berucap kalah.Otak diputar,peluang di baca hingga terbetik keinginan membuka usaha Rumah Makan lesehan.”Hobiku memang kuliner” begitu alasan yang disampaikan saat saya tanya alasan membuka usaha barunya.

Rumah makan dipilih karena dirasa masih adanya ceruk peluang banyaknya pendatang.Keinginan konsumen yang membutuhkan suasana berbeda.Pilihan ini tidak salah, meski masih berusia belia, beberapa tamu penting pernah singgah seperti PANGDAM V Brawijaya, juga beberapa Pejabat Pertamina Pusat.

“Hal penting lain dalam bisnis adalah bisa memberi pekerjaan ke orang
banyak, bisnis kita akan banyak didoakan orang.Maka tak usah menunggu kondisi ideal.Setelah terlihat peluang, potensi pasar segera beranikan diri untuk berjuang.Kesempurnaan bisnis dapat diselesaikan dengan menutup setiap kekurangan setelah peluang digulirkan”tuturnya.

Keberanian ini sebelumnya menjadi kendala dalam langkah bisnisnya. Kondisi ideal sempurna malah menjadikannya takut memulai.Padahal saat semua dimulai pasar bisa menerima,meski kekurangan disana-sini masih ditemui.Saat saya berdiskusi dengannnya disuatu pagi, tercetus kesimpulan bahwa keluhan pelanggan adalah sarana tepat untuk memperbaiki kondisi.

Dimulai dengan menyediakan KRISAN,lembar Kritik – Saran disetiap
meja.Harapannya pelanggan yang merasa belum puas akan bisa mengisi dan menyerahkan.Evaluasi akan dilakukan tiap pekan dengan menjadikan KRISAN sebagai bahan kajian.

Bisnis Rumah Makan adalah bisnis kepercayaan, persaingan akan berada
ditingkat kepuasan.Kritik perlu disikapi sebagai bahan bakar,menjaga
semangat tetap berkobar agar keluhan bukan sebatas kebuntuan. Pelanggan loyal akan mudah bertahan kalau semua keinginan telah mereka dapatkan.

Dalam hati saya merasa senang karena Yusni cukup responsive atas setiap keluhan .Untuk menyenangkan pelanggan tak jarang dia memberikan ”kompensasi” berupa sajian makan gratis menu tertentu.Ini diberikan saat tamu dirasa terlalu lama menunggu hidangan dihantarkan.Maklumlah karena banyaknya permintaan kadang antrean sering juga menjadi keluhan.

Bagi anda yang kebetulan melintas di jalur Bojonegoro-Cepu silahkan mampir ke warung lesehan asyik wal maknyus ini.Lokasinya berada di desa Klotok kecamatan Padangan, Bojonegoro

Lukman Setiawan
>> LSe Access
Creative I Solutive I Inspirative
Management Bussiness System Consultant

Today Business Quote

A business has to be involving, it has to be fun, and it has to exercise your creative instincts. – Richard Branson

Sometimes when you innovate, you make mistakes. It is best to admit them quickly and get on with improving your other innovations. – Steve Jobs

The entrepreneur always searches for change, responds to it, and exploits it as an opportunity. – Peter F. Drucker

WordPress Themes