Category: Bisnis

Ngiklan = Beli Data, Bukan Sekedar Konversi Atau Sales

10526094_1452377168382678_1780214486659670443_n

Ketika Anda ber-iklan menggunakan media apapun itu (Adword, FB, PPV, dsb) apa yang Anda sebetulnya dapatkan? SALES atau Konversi?? Ya, tapi sempit sekali kalau seperti itu cara berfikirnya. Oleh karenanya banyak Affiliate Marketing di Indonesia sales atau konversinya kayak gelombang laut, kadang besar, kadang ngamuk, kadang adem, adem dan adem seterusnya…. Karena apa? Karena ukurannya cuma SALES…

Kalau Anda ber-iklan, sesungguhnya yang Anda peroleh itu jauh lebih besar daripada sekedar SALES. Ber-iklan sebenernya anda sedang MEMBELI DATA yang Anda filter berdasarkan asumsi dan kondisi yang Anda inginkan. Begitu iklan Anda tersebut disebar (berjalan) yang datang ke target iklan itu adalah TRAFFIC dan isi dari TRAFIC itu adalah DATA/INFORMASI, effectnya adalah konversi atau sales.

Sangat disayangkan sekali kalau data itu hanya lewat saja dan yang dilihat hanya konversinya. Padahal traffic yang datang dari iklan tersebut berisi data yang sangat kaya informasi, mulai dari demografi (negara, kota, wilayah), Device yang dipakai (Komputer, Gadget), Koneksi yang dipakai (WIFI, MOBILE), sampai ke Carrier nya (Telkomsel, XL, dsb). Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana menangkap Data/Informasi yang ada tersebut? Memang beberapa Traffic Source besar seperti Google dan Facebook menyediakan beberbagai laporan atau Insight dari traffics yang dihasilkan oleh iklan tersebut, tapi seringkali informasinya sangat terbatas dan terlambat. Akibatnya adalah, Anda sering terlambat bahkan tidak cukup informasi diperoleh untuk melakukan optimasi pada iklan Anda. Yang lebih parah lagi, keputusan Anda menjadi salah dan ahirnya kehilangan peluang.

Ada sebuah pengalaman pribadi, ketika suatu saat saya memasang iklan untuk sebuah offer, hasil riset awal, saya punya asumsi bahwa pengguna atau yang biasa memanfaatkan offer tersebut adalah para pemakai operating sistem Android dan iOS. Setelah saya coba running iklan tersebut 1-2 hari, saya mendapatkan kenyataan bahwa hasil konversinya sangat rendah, alias ROI nya minus. Saya hampir memutuskan untuk menghentikan Campaign saya untuk offer tersebut, namun karena saat awal beriklan saya punya prinsip bahwa beriklan di awal itu utamanya adalah membeli data, maka diawal saya melakukan split Campaign di Traffic Source tidak hanya ke Android dan iOS saja tapi saya sertakan juga ke Operating System lainnya.

os

Ketika saya melakukan evaluasi terhadap data/informasi yang diperoleh dari hasil iklan tersebut, saya menemukan satu titik cahaya di Campaign yang justru tidak ditujukan ke Android dan iOS, dimana untuk yg bukan kedua OS tersebut ROI nya justru sangat tinggi, ahirnya saya mencoba melakukan optimasi dengan menggeser “Angle” iklan terhadap OS selain dari Android dan iOS pada Campaign nya di Traffic Source. Apa yang terjadi? BUMP!! Hasilnya sangat dahsyat, offer tersebut menghasilan konversi lebih dari $7000 dalam 1.5 bulan!

Hasil riset yang dijadikan asumsi awal saat kita ber-iklan justru seringkali salah, tapi data yang terkumpul dari hasil ber-iklan itu adalah FAKTA yang tidak terbantahkan.

Masalahnya adalah, bagaimana kita melakukan capture data terhadap traffic yang datang dari iklant tersebut? Anda tidak bisa mengandalkan Report atau Insight dari Traffic Sources, yang harus Anda gunakan adalah tools, Tracking Tools! Hanya itu yang bisa membantu Anda dalam meng-evaluasi data/informasi yang Anda peroleh secara CEPAT dan AKURAT. Sehingga Anda bisa melakukan optimasi yang tepat untuk Campaign Anda selanjutnya di Traffic Sources.

Oleh karena itu, Tracking Software adalah Tools yang sangat penting yang wajib seorang Affiliate Marketing miliki. Dan ada banyak Tracking Software saat ini dipasaran, pada kesempatan terpisah saya akan bahas satu persatu. Dan keterampilan Anda dalam menggunakan Tracking Software ini jelas akan menentukan nasib Anda sebagai seorang Affiliate Marketing. Bisa saja Anda berbangga dengan apa yang Anda hasilkan saat ini tanpa Tracking, namun menurut saya hal itu hanya sekedar Jackpot yang tidak akan berlangsung lama, kalau orang sunda bilang itu “lup…lep…”.

Sesungguhnya Affiliate Marketing itu pengetahuan, bukan kira-kira atau ramalan. Itu sebabnya para Affiliate dunia itu sales atau konversinya berkepanjangan, karena yang diolah bukan FEELING atau RAMALAN tapi DATA dan INFORMASI.

I’m a Marketer not a Bug Founder…

 

By Rully Kustandar

Sumber: http://tongkatajaib.com/ngiklan-beli-data/

3 Ilmu Wajib Seorang Affiliate Marketing

Ada minimal 3 Keterampilan yang wajib dimiliki oleh seorang Affiliate Marketing.

Pertama, memahami dan mampu memanfaatkan/menggunakan berbagai Trafiic Sources. Setiap Traffic Source mempunyai karakteristik yang berbeda berdasarkan basis traffic yang mereka bangun. Keterampilan menggunakan berbagai Traffic Source adalah hal wajib. Semakin banyak Traffic Source yang bisa dikuasai, semakin besar peluang untuk meningkatkan penghasilannya.

Dari Jenis Traffic nya ada minimal 5 jenis TS saat ini:
– Social Media: Facebook, Twitter, LinkedIn
– PPV (Pay-Per-View): Traffic Vence, MediaTraffic, Direct CPV
– Search Engine: Google Adword, BING
– Mobile Traffic: LeadBolt, TapIt, Adiquity, AdsMobi
– Adult Traffic: ExoClick, TrafficJunky, JuiceAds

dan masih sangat buaaanyak….

Seorang Affiliate harus mahir memilih dan menggunakan Traffic Source yg sesuai dengan Campaign-nya, bahkan melakukan Scale-up winning Campaign ke berbagai Traffic Source yang sesuai/sama karakternya.

Kedua, keterampilan menggunakan Tracking software. Ini juga wajib banget, cuma sayang jarang sekali Aff Indonesia yang mahir menggunakan ini. Ada banyak juga tracking Software ini, CPVLab, Prosper202, iMobiTrack, LinkTrackr, Voluum. Yang terahir ini yang paling saya suka, sangat revolusioner. Tanpa keterampilan memanfaatkan Tracking, rasanya mustahil Anda bisa jadi Affiliate Marketing yang sukses. Karena, affiliate marketing adalah pengetahuan, bukan kira-kira atau ramalan…

Ketiga, keterampilan mendefinisikan/create sebuah “Angle” dari sebuah Campaign, kemampuan ini yang membuat Anda menjadi “berbeda” dengan Affiliate Marketing lainnya. Dari “angle” inilah akan lahir Banner, AdsCopy dan Landing Page. Begitu ketemu “angle”-nya, soal Banner & LP tinggal order aja di Fiverr. Kunci utama kesuksesan para super affiliate kalau saya lihat adalah kemampuan dia dalam menentukan sebuah “angle”…

 

By Rully Kustandar

Sumber: http://tongkatajaib.com/3-ilmu-wajib-affiliate-marketing/

Life Force 8: Delapan Kebutuhan Dasar Manusia

Life Force 8

Dapatkah Anda melepaskan diri dari keinginan untuk makan? Bisakah Anda melupakan cita-cita untuk hidup layak (punya rumah, kendaraan)? Dapatkah Anda melepaskan keinginan Anda untuk tetap sehat?

Tidak perlu survey yang ribet-ribet untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan di atas, jawabannya sudah sangat jelas terprogam secara biologis pada diri Anda masing-masing. Dalam kehidupan ini, setiap manusia pada dasarnya memiliki 8 Hasrat/Keinginan Dasar yang secara biologis sudah tertanam pada dirinya masing-masing sejak lahir:

  1. Survival (Mempertahankan Hidup)
  2. Kebutuhan akan Makanan dan Minuman
  3. Kebebasan dari rasa Takut, Sakit dan Bahaya
  4. Kebutuhan Seksual
  5. Kondisi hidup yang nyaman dan menyenangkan termasuk di dalamnya hiburan
  6. Aktualisasi diri
  7. Perlindungan dan Kenyamanan terhadap orang-orang yang dicintai
  8. Pengakuan dari lingkungan sosialnya

Coba siapa diantara Anda yang tidak menginginkan hal tersebut di atas dalam kehidupannya? Tapi, berapa banyak Ads Copy iklan Anda yang memanfaatkan satu atau lebih Life Force 8 ini?

Jika Anda membuat Ads Copy yang mendasarkan kepada salah satu dari Life Force 8, sesungguhnya Anda telah memanfaatkan sebuah kekuatan yang sangat alamiah dan itu terlahir ada pada diri setiap manusia. Silahkan diperhatikan, setiap manusia tidak bisa terlepas dari 8 hal tersebut di atas dan itu mengiringi dirinya hingga mati.

Kenapa materi KebunEMAS (baik eBook maupun Seminar) masih tetap eksis sampai saat ini (sudah lebih dari 7 tahun)? Karena materi KebunEMAS menjawab kebutuhan no 1 dan 7, salah satu tagline KebunEMAS yang masih saya pakai sampai saat ini adalah:

“Ber-Investasi EMAS Dengan Cara Yang Tidak Pernah Anda Fikirkan, Bagaimana EMAS Bisa Menjaga Daya Beli Anda 10, 20 atau 100 Tahun Yang Akan Datang”

Ketika Anda membuat sebuah Ads Copy untuk Iklan, manfaatkanlah salah satu dari daya tarik alam bawah sadar di atas, dengan melakukan itu Anda artinya memanfaatkan momentum yang tak terbendung dari emosi yang mendorong manusia setiap hari bahkan setiap detik.

People buy because of Emotion and justify with Logic.
Force an emotional response by touching on a basic want or need.
– “Seven Principles of Stopping Power”

 

sumber: http://tongkatajaib.com/life-force-8-delapan-kebutuhan-dasar-manusia/

Ini Rahasia Kaya Raya Para Miliuner Teknologi

1. Mark Zuckerberg

Sang pendiri dan CEO Facebook adalah miliuner muda terkaya di dunia. Kekayaannya tidak dicapai dalam sekejap, melainkan kombinasi dari kerja keras dan berani mencoba.

“Bergeraklah cepat. Tidak mengapa untuk mencoba sesuatu yang besar. Lebih baik Anda mencoba dan gagal, kemudian belajar dari kegagalan itu ketimbang tidak melakukan sesuatu sama sekali,” paparnya.

Zuckerberg sendiri mengawali Facebook di bangku universitas dengan modal nekat bersama teman-teman dekatnya. Ia berambisi menciptakan jejaring sosial yang besar dan akhirnya sukses besar.

“Pokoknya kamu harus bergerak cepat dan mau mencoba banyak hal,” tegasnya lagi.

2. Jeff Bezos

Dari sebuah garasi sederhana, Jeff Bezos sukses membawa Amazon menjadi website retail terbesar di dunia. Ia memiliki kekayaan USD 28,5 miliar. Luar biasa melimpah harta kepunyaannya.

“Kebanyakan orang, tapi aku tidak termasuk, percaya bahwa kita harus hidup untuk masa sekarang. Aku pikir apa yang harus kamu lakukan adalah berpikir tentang masa depanmu dan cobalah merencanakannya dengan cara yang akan membuatmu sangat puas,” tukas Bezos.

Merencanakan masa depan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak meninggalkan penyesalan, barangkali itulah inti perkataan Bezos. Dia juga memberi nasehat untuk keras kepala dan fleksibel.

“Jika kamu tidak keras kepala, kamu akan menyerah dalam suatu eksperimen terlalu cepat. Dan jika kamu tidak fleksibel, kamu tidak akan melihat solusi berbeda dari masalah yang kamu hadapi,” tambahnya.

Dalam berbisnis, Bezos juga menekankan pentingnya memahami secara detail. “Jika kamu tidak memahami bisnismu secara detail, kamu akan gagal,”.

3. Bill Gates

Berulangkali dinobatkan sebagai manusia terkaya di dunia, Bill Gates jelas berlimpah uang. Seperti apa tips kesuksesan dari bos Microsoft ini?

“Kebanyakan orang yang melakukan sesuatu dengan sangat baik telah menemukan sesuatu yang membuat mereka tergila-gila,” sebut Gates yang menekankan passion dalam suatu pekerjaan adalah sangat penting.

“Jika yang kamu lakukan adalah sesuatu yang mungkin berdampak besar, kamu juga akan merdeka secara finansial,” lanjutnya.

Dia menambahkan pula bahwa punya ambisi besar sangatlah penting. “Menjadi ambisius itu penting. Tapi kamu harus senang melakukan apa yang ingin kamu lakukan,” tambahnya lagi.

“Jangan banding-bandingkan dirimu dengan siapapun di dunia ini. Jika kamu melakukannya, berarti kamu mengina dirimu sendiri,”

4. Steve Jobs

Mendiang Steve Jobs, sang legenda di dunia teknologi dan pendiri Apple, menekankan pentingnya mengejar impian tanpa menyerah.

“Suatu hari, tidak lama dari sekarang, kamu akan menjadi tua dan ‘dibersihkan. Sori jika terlalu dramatis, namun itu kenyataan yang cukup benar,”

“Waktumu itu terbatas, jadi jangan buang untuk mencoba menjadi orang lain,” kata Jobs.

Waktu yang terbatas merujuk pada kehidupan manusia yang sebentar. Jadi harus dimanfaatkan dengan maksimal.

“Jangan biarkan pendapat orang lain menenggelamkan suara di dalam batinmu. Dan yang paling penting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu,” tambahnya.

5. Larry Ellison

Larry Ellison adalah salah satu orang terkaya di dunia teknologi berkat kesuksesan Oracle, raksasa software enterprise. Salah satu rahasia suksesnya adalah fokus dan bekerja keras.

“Aku berpikir soal bisnis sepanjang waktu. Bahkan saat aku sedang liburan atau berada di kapalku, aku selalu akses email. Aku selalu mencari di internet soal apa yang dilakukan oleh kompetitor,” tukas Ellison.

Ellison juga sangat ambisius. Ambisi utamanya adalah mengalahkan Microsoft dan menjadi produsen software terbesar di dunia.

“Aku sangat berorientasi pada tujuan. Aku suka memenangkan piala. Aku ingin Oracle menjadi perusahaan software nomor satu di dunia. Aku pikir masih mungkin untuk mengalahkan Microsoft,” tukasnya suatu ketika.

Sisi Kelam Bekerja di Google, Apple, dkk

1. Facebook

Facebook pernah dinobatkan sebagai tempat kerja terbaik di Amerika Serikat. Namun sebagian karyawan merasa tidak senang bekerja di sana terkait beberapa alasan.

“Memang ada makanan dan minuman gratis, tapi lupakan saja. Tempat kerja di Facebook buruk. Ruangan karyawan yang besar dipenuhi orang berdempetan dengan privasi nol,” komplain seorang pekerja.

Masalah privasi ini rupanya dikeluhkan banyak pekerja, karena meja kerja mereka terlalu berdekatan dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Selain itu, Mark Zuckerberg selaku pendiri dan CEO Facebook dinilai terlalu angkuh pada karyawan.

“Pimpinan bersikap seolah mereka lebih jauh lebih tinggi pada setiap orang di sekelilingnya,” tulis seorang pekerja.

Namun demikian, banyak yang menilai hal tersebut bukan masalah besar. Gaji tinggi dan makan gratis tiga kali sehari jelas diminati.

2. Google

Google juga dikenal memanjakan karyawannya dengan gaji tinggi, kantor keren serta fasilitas yang melimpah. Namun tidak semua suka bekerja di raksasa mesin cari internet ini.

“Anda membaca banyak hal mengagumkan dari bekerja di Google. Namun sebelum aku keluar, tempat itu penuh dengan orang bertalenta yang tidak dianggap dan struktur yang penuh politik dan kejam,” sebut Scott, mantan pekerja Google.

Karyawan juga bekerja sangat keras hingga akhir pekan. Di sisi lain, meskipun bayarannya sudah cukup tinggi, mereka masih merasa kurang.

“Sepertinya orang bekerja di Google bukan untuk uang. Mereka bekerja di Google karena ingin mengubah dunia,” sebut seorang pekerja yang mengeluhkan bayaran tidak sesuai.

“Pendapatan Google sampai miliaran. Berikan 2% saja pada pekerja agar mereka lebih bahagia,” tulis seorang karyawan yang menghitung bagian untuk karyawan Google hanya 1% dari keuntungan.

3. Microsoft

Menjadi karyawan Microsoft jelas menjadi kebanggaan tersendiri. Namun tidak demikian bagi para karyawannya yang kecewa.

Misalnya Microsoft melakukan review brutal pada pekerjanya. “Lingkungan kerja menjadi stress tinggi. Pekerja menjadi ketakutan secara konstan jika diberi nilai rendah tanpa bisa mengontrolnya,” sebut seorang pekerja.

Adapun para bos sering berteriak dan menyalahkan pekerja. Hal ini seperti sudah menjadi budaya di Microsoft dan membuat karyawan tertekan.

Microsoft juga menekankan karyawannya bekerja sangat keras. Dengan kantor yang didesain bagi pekerja untuk mengabdikan diri dengan jam kerja panjang.

“Entah disengaja atau tidak, ada budaya atau mindset yang mengharuskan Anda bekerja selama 24/6,” ucap seorang karyawan.

4. Apple

Bekerja di Apple jelas merupakan prestis besar karena mereka adalah salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Namun tidak semua karyawan puas, terutama yang bekerja di APple Store.

“Dari tokonya di seluruh dunia, Apple menjual sampai USD 16 miliar. Namun kebanyakan pekerja Apple hanya menikmati sedikit dari keuntungan tersebut,” tulis David Segal, wartawan New York Times.

“Sekitar 30 ribu dari 43 ribu pekerja Apple bekerja di Apple Store, sebagai bagaian dari ekonomi servis, dan banyak dari mereka hanya digaji USD 25 ribu per tahun,” lanjut David.

Jumlah gaji USD 25 ribu per tahun terhitung kecil di Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, gaji karyawan Apple Store hanya separuh dibandingkan gaji karyawan toko Verizon yang juga berjualan ponsel.

Padahal, eksekutif Apple dibayar begitu tinggi. Tahun 2012, CEO Apple Tim Cook menerima bayaran sampai USD 378 juta.

 

Kisah di Lembah yang Melegenda: Dari ‘Nihil’ Jadi Triliuner

Jakarta – Tahun 2010, di sebuah perusahaan layanan rekomendasi perjalanan, NextStop, sosok pemuda berusia 23 tahun ini –Kevin Systrom — ingin mengetahui seluk beluk bagaimana bahasa pemrograman bekerja.

Tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu komputer yang formal, yang dipikirkan adalah mencoba mengintegrasikan elemen check-in Foursquare dengan permainan Mafia Wars.

Setelah belajar setiap malam, prototipe berteknologi HMTL5 dengan nama Burbn lahir dan disempurnakan setiap akhir pekan. Pada sebuah kesempatan, di pesta, manajer produk ini bertemu dengan dua figur penting perusahaan modal ventura Baseline Ventures dan Andreesen Horowitz.

Prototipe diperlihatkan dan ketiganya sepakat untuk bertemu kembali. Setelah pembicaraan lanjutan di kedai kopi dilalui, dia mengajukan pengunduran diri untuk membesarkan produknya sendiri.

Dua minggu sesudahnya, bulan Maret, seed funding sebesar USD 500 ribu diterima. Juli tahun yang sama, NextStop, yang didirikan oleh dua mantan karyawan Google, diakusisi Facebook.

Beberapa fitur ditambahkan dan saat bertemu Mike Krieger, keduanya sepakat untuk fokus pada satu produk saja. Aplikasi yang spesifik dan memang belum ada pada saat itu. Seminggu sesudahnya, prototipe sebagai aplikasi berbagi foto selesai.

Dari aplikasi versi terdahulu, yang dipertahankan hanyalah fitur komentar dan status ‘like’ sementara stabilitas dan kehandalannya ditingkatkan. Dalam waktu 8 minggu, tepatnya Oktober dua tahun lalu, setelah melalui pengujian internal dan eskternal serta perbaikan bug, instant telegram, disingkat dan lebih popular dengan nama instagram, diluncurkan di AppStore.

18 bulan kemudian, perusahaan yang didirikan oleh kedua sosok pemuda di atas, Kevin Systrom dan Mike Krieger, diestimasikan bernilai USD 500 juta. Tahun lalu, hashtag atau tagar dan versi 2.0 diluncurkan serta pendanaan seri A sebesar USD 7 juta (termasuk dari pendiri Twitter Jack Dorsey dan pendiri Quora Adam D’Angelo) diterima.

Perjalanan Bersejarah

Tahun ini merupakan tahun bersejarah bagi perusahaan startup dengan 30 juta pengguna itu. Versi Android yang untuk pertama kali diluncurkan di Google Play mencatat rekor 1 juta unduhan dalam 12 jam. Dana segar kembali diperoleh.

Kali ini senilai USD 50 juta dari pemodal ventura. Yang paling fenomenal adalah Facebook, yang dalam tahapan go public, mengakuisisi penuh dengan nilai USD 1 miliar. Kevin memperoleh 40%, Mike 10% dan sisanya akan dibagikan kepada 11 karyawan serta para investor.

Begitu banyak analisis dan spekulasi beredar menyangkut akuisisi yang menghabiskan seperempat dana tunai Facebook serta masa depan keduanya. Serupa namun tidak sama, sebagai perbandingan, Yahoo! menghabiskan 35 juta dolar saat mengakuisisi Flickr di 2007.

Biaya akuisisi per pengguna sebesar puluhan dolar yang dianggap ‘murah’ sebenarnya adalah sesuatu yang debatable karena ada pengguna Facebook yang juga merupakan pengguna Instagram. Tidak ada data pasti jumlah pengguna yang bergabung kedua media tersebut.

Total sudah 300 juta foto diunggah dengan aplikasi terbaik versi Apple tahun lalu. Singapura, Jepang dan Amerika Serikat merupakan tiga negara dengan mayoritas pengguna terbanyak.

Salah satu kekuatan Facebook adalah foto dan fitur ‘tag’ atas foto yang membuat tingkat user traction dan terutama user engagement menjadi begitu tinggi dan intens.

Dengan target 50 juta pengguna di akhir tahun ini, Instagram berencana untuk melebarkan sayapnya, dimana komunitas tidak hanya berbagi foto namun juga diarahkan untuk berbagi jenis konten lainnya. Dengan tim pengembang yang dimilikinya saat ini, Facebook jelas lebih dari mampu mengembangkan aplikasi serupa maupun khusus untuk berbagi foto.

‘Kemesraan’ dengan Google

Beberapa bulan terakhir Google dan Facebook sejatinya cukup intensif mengadakan pendekatan kepada kedua pendiri Instagram. Tujuannya? Tidak lain untuk akuisisi.

Dirilisnya Instagram untuk ‘robot hijau’ dengan target 15 juta pengguna tambahan dari kalangan pengguna Android dikhawatirkan akan membuat hubungan Instagram dengan Google semakin mesra. Di sisi lain, dengan menjadi bagian dari Facebook, tingkat independensi Instagram dikhawatirkan pengguna akan menjadi goyah.

Yang jelas Zuckerberg berkomitmen untuk (tetap) mengembangkan Instagram secara independen. Sementara Systrom sebagaimana diutarakan di blognya “It’s important to be clear that Instagram is not going away“. Mengingatkan kita akan hal serupa atas apa yang dilakukan oleh Google terhadap YouTube.

Langkah besar selanjutnya tentu saja layak dinantikan. Sebagai pengguna, mari lanjutkan jalinan tali temali pertemanan dan kekerabatan sembari terus berbagi foto-foto ciamik nan apik!

——————————————————————————————-

Sumber: http://inet.detik.com/read/2012/04/16/102124/1893150/398/kisah-di-lembah-yang-melegenda-dari–nihil–jadi-triliuner?i992205kol

Tentang Penulis: Goutama Bachtiar adalah praktisi teknologi informasi dan penikmat jejaring sosial. Dapat dihubungi melalui Twitter: @goudotmobi, email: goutama@gmail.com, G+: www.gplus.to/goudotmobi

Jangan Menjadi Kodak

Kodak tutup. Bangkrut! Nokia bingung. Kehilangan pijakan. Starbucks jualan bir: “beyond coffee” kilahnya. Operator telco tambun limbung, digembosi Google atau Skype. Bank kebat-kebit karena tren “The death of cash”. Long tail champions seperti kanker menggerogoti irrelevant incumbents. Outliers seperti Zipcar atau Groupon marak layaknya jamur di musim hujan.

Bisnis kini menjadi kian sulit. Bisnis menjadi kian suram… bagi mereka-mereka yang picik dan bebal. Sebaliknya, Bisnis begitu moncer bagi visionaries. Bisnis begitu gilang-gemilang bagi para whitespace inventor.

Kini kita memasuki era yang luar biasa, “the era of billions of opportunities”. Landskap bisnis mengalami gempa tektonik yang memporak-porandakan, persis seperti digambarkan dalam film kiamat: 2012. Creative destruction terjadi di hampir seluruh industri. Killer apps bergentayangan terus mengintai mangsanya. Model bisnis lama hancur dibilas dengan bisnis model baru yang lebih cool. Dalam lanskap yang baru ini inovasi model bisnis bukan lagi kemewahan, tapi sudah menjadi mainstream.

Berikut ini adalah tiga creative destruction yang bakal memporak-porandakan bisnis Anda kini dan seterusnya. Creative destruction itu akan menjadi asset bagi Anda yang memilih menjadi pemenang, tapi menjadi liabilities bagi Anda yang memilih menjadi pecundang.

Customers Are Connected
Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, setelah ditemukannya social technologies konsumen menjadi terhubung satu sama lain membentuk jejaring (customer network). Jejaring konsumen ini berelaborasi menjadi cluster-cluster konsumen karena adanya satu minat atau tujuan yang sama (common interest) sehingga membentuk komunitas. Dengan medium jejaring sosial (social network) komunitas ini tumbuh demikian subur di mana antar anggota komunitas berinteraksi satu sama lain (melakukan conversation, engagement, cocreation).

Kalau sudah begini, maka Internet akan berisi jutaan bahkan miliaran komunitas konsumen yang saling terkoneksi dan berinteraksi satu sama lain secara natural tanpa satu pun instiusi yang bisa mengatur dan mengontrolnya. Mereka akan menjadi sebuah kekuatan massif yang sangat powerful dalam berhadapan dengan pemilik merek. Kasus “Dell Hell”, “Koin Untuk Prita”, hastag #25Jan atau #Suez dalam revolusi rakyat di Mesir, adalah sinyal-sinyal awal betapa konsumen menjadi demikian digdaya karena adanya social technologies.

Karena customer metamorphosis ini, saya confident mengatakan bahwa: “the future of marketing is community marketing”. Ketika kita berbicara community marketing maka rumus-rumus marketing secara fundamental akan berubah: dari “vertical” ke “horizontal”; dari “one to many” ke “many to many”; dari “selling” ke “facilitating”; dari “broadcasting” ke “participating”; dari “exploitative” ke “cocreative”; dari “selfish” ke “giving”.

Consumption Becomes Collaborative
Jakarta macet karena setiap orang membeli mobil. Jakarta pekat asap hitam karena setiap orang memiliki mobil. Kenapa tidak memiliki hanya satu mobil yang dipakai secara beramai-ramai (sharing) di antara katakan 10 atau 15 warga Jakarta secara bergantian. Kalau ini bisa dilakukan, maka populasi mobil di Jakarta akan kecil, kepulan asap yang disemburkan knalpot akan kecil, jalanan Jakarta lebih nggak macet. Dan kalau kemacetan dan polusi bisa dipangkas, maka manfaat sosial yang dihasilkan akan luar biasa.

Itulah ide dasar di balik apa yang disebut collaborative consumption. Ketika konsumen terkoneksi satu sama lain dan social technologies telah tersedia, maka “konsumsi berjamaah” yang dijalankan dalam peer-to-peer platform ini dimungkinkan. Model bisnis inilah yang melandasi operasi perusahaan-perusahaan masa depan seperti Zipcar, Zilok, atau Freecycle.

Dengan collaborative consumption kita tak perlu memiliki produk yang kita konsumsi: “What’s mine is ours”. Itu sebabnya model bisnis ini sangat menghemat sumber daya. Dan karena hemat sumber daya, ia menjadi solusi luar biasa bagi bumi yang kian pucat dan kurus. Collaborative consumption tak hanya berlaku untuk mobil, tapi berlaku produk dan layanan apapun. Saya meramalkan bisnis-bisnis dengan platform collaborative consumption akan menjadi deadly business model yang akan meruntuhkan banyak model bisnis tradisional yang usang dan tak relevan.

Bits Is the Killer App
Transformasi terbesar yang dihadapi umat manusia di abad 21 ini adalah revolusi dari “atoms” ke “bits”. Revolusi itu seperti tornado yang menyapu bersih apapun yang dilewati. Tornado itu membumihanguskan pecundang, sekaligus menyisakan pemenang. Google dan Facebook menjadi raksasa baru dalam waktu superkilat karena kesigapannya melalui revolusi atoms ke bits. Sebaliknya, Kodak terpaksa tutup karena tak berdaya melewati revolusi atoms ke bits. Kodak tak mulus menjalani transisi dari fotografi analog ke fotografi digital.

Bits is the killer app. Banyak korban berjatuhan karenanya. Borders “dibunuh” oleh Amazon. Toko CD “dibunuh” oleh iTunes. Penerbit cetak “dibunuh” oleh Lulu.com. Layanan interlokal “dibunuh” oleh Skype. Ensiklopedia Britanica “dibunuh” oleh Wikipedia. Koran dan majalah “dibunuh” oleh blog.

Ketika informasi dipaket dalam bentuk bits, maka informasi kemudian tersedia secara berlimpah (abundant), begitu mudah didapatkan dan dicari (findable/searchable), dan yang terpenting ia menjadi grastis (free). Ketika pengetahuan dipaket dalam bentuk bits, maka ia kemudian menjadi seperti O2 yang tersedia secara berlimpah dan gratis. “Once something becomes bits, it inevitably becomes free.” Ini memicu terciptanya model bisnis paling mematikan saat ini yaitu “free business model”.

Saya melihat, tiga fenomena di atas merupakan persoalan besar di depan mata yang harus dibereskan setiap marketer. Tiga pertanyaan tersebut tak gampang dicari jawabannya karena melibatkan perubahan rule of the game pemasaran yang begitu fundamental. Untuk melakukannya marketer harus menciptakan inner sense of urgency. Ia harus berani keluar dari zona nyaman dan berani membalas creative destruction yang menimpa industri dengan creative destruction dalam paradigma dan pendekatan pemasaran yang digunakan.

Persoalan pelik yang selalu mengiringi sebuah perubahan paradigma adalah begitu perkasanya legacy masa lampau dalam mengungkung pikiran kita. Legacy inilah yang membuat otak kita beku. Dengan beku otak kita akan menganggap resep-resep mujarap masa lalu sebagai yang terbaik dan terbenar; sementara paradigma dan pendekatan baru adalah teroris yang sedari dini harus ditumpas. Di tengah kebekuan, otak kita memerlukan rebooting untuk menjadi kanvas putih-bersih.

Hanya dengan terus belajar dan paranoid terhadap setiap perubahan kita akan menjadi brand gardener yang hebat. Kuncinya sederhana: “Jangan menjadi Kodak!!!

——————————————————————————————-

sumber: http://yuswohady.blogdetik.com/2012/04/16/jangan-menjadi-kodak/

Kritik Bahan Bakar Semangat Berkobar

Dalam berbisnis kita tidak boleh merasa puas dengan keadaan yang telah kita dapatkan.Saat Kita menemui kendala segera cari peluang yang lain”Demikian urai karib saya Yusni Aribowo,SE seorang Enterpreuner ulet dari Kota Minyak Cepu.

Obrolan pembuka suatu pagi cerah di pojok dapur Rumah Makan Pondok Lesung Asri, Padangan Bojonegoro.Sambil membakar ikan Gurame pesanan pelanggan, Pebisnis yang dikarunia enam orang anak ini berbagi kiat.

Saya bersilaturahim dengan karib kecil saya ini setelah tak bersua beberapa tahun.Kewirausahaan memang sangat lekat dengannya :Ayah, Ibu, Kakek dan semua Om nya pun memilih jalan yang sama.Like Father like son,ungkapan yang sangat cocok untuk menggambarkan pilihan hidupnya.

Setamatnya study di salahsatu Perguruan Tinggi di Jakarta, dia memilih
pulang kampung.Membantu mengurus Bisnis Bapaknya.Bermacam bisnis pun telah dirambahnya, mulai kontraktor sipil,Supplier jasa, catering, laundrey yang terakhir adalah rumah makan.

Berguru Bisnis langsung dengan sang Bapak-pun harus dilakoninya.Saat Sang Bapak dipanggil yang Maha Kuasa estafet bisnis pun berpindah. Generasi pertama meletakkan dasar bisnis membuka peluang, generasi kedua mempertahankan dan mencari terobosan untuk tetap survive.

Sang Bapak adalah kontraktor kenamaan di Cepu,berpuluh tahun menjadi rekanan Migas-Pertamina.Reputasi dan unjuk kerja menjadi jaminan atas proyek garapannya. Job mengalir dan pundi-pundi rejeki terus membanjir.

Saat Yusni duduk sebagai Nakhkoda Bisnis ,jaman berubah tantangan
berganti.Kebijakan Pemerintah mengalami banyak pergantian.Aturan tender tak seperti waktu sebelumnya, harga dipangkas.Sehingga sulit berbisnis dengan harga yang minim.

Mundur bukan berarti hancur,tak ada kata menyerah apatah lagi berucap kalah.Otak diputar,peluang di baca hingga terbetik keinginan membuka usaha Rumah Makan lesehan.”Hobiku memang kuliner” begitu alasan yang disampaikan saat saya tanya alasan membuka usaha barunya.

Rumah makan dipilih karena dirasa masih adanya ceruk peluang banyaknya pendatang.Keinginan konsumen yang membutuhkan suasana berbeda.Pilihan ini tidak salah, meski masih berusia belia, beberapa tamu penting pernah singgah seperti PANGDAM V Brawijaya, juga beberapa Pejabat Pertamina Pusat.

“Hal penting lain dalam bisnis adalah bisa memberi pekerjaan ke orang
banyak, bisnis kita akan banyak didoakan orang.Maka tak usah menunggu kondisi ideal.Setelah terlihat peluang, potensi pasar segera beranikan diri untuk berjuang.Kesempurnaan bisnis dapat diselesaikan dengan menutup setiap kekurangan setelah peluang digulirkan”tuturnya.

Keberanian ini sebelumnya menjadi kendala dalam langkah bisnisnya. Kondisi ideal sempurna malah menjadikannya takut memulai.Padahal saat semua dimulai pasar bisa menerima,meski kekurangan disana-sini masih ditemui.Saat saya berdiskusi dengannnya disuatu pagi, tercetus kesimpulan bahwa keluhan pelanggan adalah sarana tepat untuk memperbaiki kondisi.

Dimulai dengan menyediakan KRISAN,lembar Kritik – Saran disetiap
meja.Harapannya pelanggan yang merasa belum puas akan bisa mengisi dan menyerahkan.Evaluasi akan dilakukan tiap pekan dengan menjadikan KRISAN sebagai bahan kajian.

Bisnis Rumah Makan adalah bisnis kepercayaan, persaingan akan berada
ditingkat kepuasan.Kritik perlu disikapi sebagai bahan bakar,menjaga
semangat tetap berkobar agar keluhan bukan sebatas kebuntuan. Pelanggan loyal akan mudah bertahan kalau semua keinginan telah mereka dapatkan.

Dalam hati saya merasa senang karena Yusni cukup responsive atas setiap keluhan .Untuk menyenangkan pelanggan tak jarang dia memberikan ”kompensasi” berupa sajian makan gratis menu tertentu.Ini diberikan saat tamu dirasa terlalu lama menunggu hidangan dihantarkan.Maklumlah karena banyaknya permintaan kadang antrean sering juga menjadi keluhan.

Bagi anda yang kebetulan melintas di jalur Bojonegoro-Cepu silahkan mampir ke warung lesehan asyik wal maknyus ini.Lokasinya berada di desa Klotok kecamatan Padangan, Bojonegoro

Lukman Setiawan
>> LSe Access
Creative I Solutive I Inspirative
Management Bussiness System Consultant

Today Business Quote

A business has to be involving, it has to be fun, and it has to exercise your creative instincts. – Richard Branson

Sometimes when you innovate, you make mistakes. It is best to admit them quickly and get on with improving your other innovations. – Steve Jobs

The entrepreneur always searches for change, responds to it, and exploits it as an opportunity. – Peter F. Drucker

Ratapan Seorang Istri

Tadi malam aku nonton TV dan disitu ada scene (bagian film) yang buat aku lebih mantap dengan jalan yang aku pilih. Di scene tadi diceritain ada seorang istri yang merasa kehilangan suaminya. Meraka gak bercerai, mereka masih hidup dalam 1 atap, tapi sang istri begitu merasa kehilangan suaminya.

Kenapa?

Itu karena kesibukan suaminya di kantor…

Memang sudah menjadi sebuah kewajiban seorang suami untuk menafkahi istrinya. Untuk membiayai kehidupan keluarganya. Seperti makan, bayar listrik, air, biaya sekolah anak, dll. Itu sudah menjadi kewajiban suami. Ini lebih tepatnya disebut nafkah lahir (materi).

Tapi apa itu aja yang dibutuhkan istri ?

Ternyata nggak,

Bagi seorang istri yang baik (“sholehah”-red), mereka juga butuh yang dinamakan nafkah batin. Tapi.. celakanya banyak orang yang mengartikan nafkah batin ini adalah yang berhubungan dengan hal itu tu.. (khusus dewasa, hehehe-red). Padahal nafkah batin ini artinya LUAS (menurutku sih..). Nafkah batin itu bisa berupa kasih sayang, perhatian yang lebih, memanjakan istri, membimbing istri, memberi contoh yang baik pada istri, dan masih banyak lagi. Itu yang lebih dibutuhkan seorang istri daripada hanya sekedar materi.

Seringkali saat para istri menuntut perhatian yang lebih ke suaminya yang (sok) sibuk dengan kerjaanya, biasanya si suami jawab kayak gini

“Ayah kan kerja juga untuk bunda, untuk keluarga kita… “

Yeah.. tu mah jawaban klasik. Bilang aja udah bosen sama istrinya, makanya nyibukin diri di kerjaan (tapi syukur sih kalo emang sibuk beneran, hehehe).

Tapi para istri juga kudu nyadar.. kudu peka, kalau memang suaminya sibuk beneran ya seharusnya mereka dukung sang suami. Misal ditemenin lembur, dibantu nyelesai’in kerjaanya, terus memberi support, dll. Kalau sama-sama “ngerti” pasti enak kok…

Trus apa hubungannya cerita di TV tadi dengan jalan yang aku pilih ?

Gini… Aku memilih jalan bisnis sebagai jalan untuk mencari nafkah. Aku lebih milih usaha sendiri daripada harus jadi pegawai atau karyawan orang lain. Karena dengan aku punya usaha sendiri, aku BEBAS. Aku bebas ngatur waktu, aku bebas mau kerja di kantor atau di rumah semua terserah aku, aku bebas nentuin gajiku sendiri, dll. The point is I’m FREEEE !

Sebenernya salah satu tujuanku bisnis adalah biar aku punya waktu banyak untuk keluargaku. Karena bagiku keluarga adalah segalanya. Aku bisa ninggalin apapun asal itu demi keluargaku. Asal itu bisa bikin keluargaku bahagia. Kebahagiaan keluargaku adalah prioritas utama dalam hidupku setelah Tuhanku.

Mungkin saat ini aku masih single. Aku belum punya istri. So, yang jadi prioritasku saat ini adalah kebahagiaan kedua orang tuaku. Aku selalu berusaha untuk mengukir senyum diwajah mereka dengan semua pencapaianku, dengan kehadiranku di tengah-tengah mereka, bahkan di saat aku jauh dari mereka, aku ingin selalu membuat mereka tersenyum. Saat ini pun aku mempunyai PR besar untuk membahagiakan mereka, yaitu dengan menghadiahkan sebuah mobil untuk mereka, semoga tahun ini mobil itu bisa terwujud. Amin…

Dan nanti saat aku sudah menikah, aku akan berusaha mencurahkan segenap waktu dan perhatianku untuk istri tercintaku. Aku akan berusaha selalu bersama istriku. Kan di perusahaan aku bosnya.. jadi aku bebas dong mau kerja di mana, mau di rumah, di kantor, atau sambil jalan-jalan sama istri semua terserah aku, enak kan? hehehe..

Sebenarnya ini juga karena dulu ada teman kakakku yang cerita kalau pacarnya ngeluh:

“Mas, buat apa mas kerja kalau aku ngerasa kehilangan mas? Mas kerja kan untuk kebahagiaan kita, tapi kalau aku gak ngerasa bahagia buat apa mas kerja?”

Nah.. dari cerita teman kakakku itulah aku tambah bersemangat untuk menekuni dunia bisnis. Dan aku semakin mantap memilih dunia bisnis setelah aku magang kerja. Saat itu aku berusaha menikmati posisiku sebagai pegawai sebuah perusahaan. E.. bukannya menikmati malah aku merasakan kebosanan, kerjaannya monoton, gak ada pengembangan diri dan kualitas pribadi. Yang lebih parahnya lagi, hampir semua pegawai juga mengeluh. Mulai dari Office Boy (OB), marketing, admin sampai Supervisor semuanya ngeluh, yang gak ngeluh cuma Managernya (yaiyalah dia yang punya perusahaan..). Ada yang ngeluh masalah gaji, waktu kerja, kerjaan yang harus dikerjakan dan macam-macam.

Sebenarnya masih banyak alasan kenapa aku memilih BISNIS, yang semua alasan itu aku pelajari dari kehidupan orang-orang yang lebih tua dari aku dan mereka mengeluh dengan kehidupannya yang hanya jadi ‘pegawai atau karyawan’. So, akhirnya aku mencapai pada satu kesimpulan, bahwa:

“Dunia bisni mengajariku semua hal yang aku butuhkan dalam kehidupan ini. Di bisnis aku diajarkan membangun hubungan (relationship), diajarkan bagaimana melayani sesama dengan baik (service excellent), menjaga dan meberikan kepercayaan (trust), member dengan tulus (giving) dan masih banyak lagi. Terlebih lebih dunia bisnis memberiku kebebasan untuk terus mengembangkan pribadi, kecerdasan, dan kepekaan perasaan, dan kebaikan lainnya sehingga aku bisa menjadi PRIBADI TERBAIK”.

Bagaimana dengan kamu ? Setuju?

^_^

Siddiq

WordPress Themes