Category: Rumah Tangga

MUSLIMAH PENGHUNI DUA SYURGA

http://biomastory.files.wordpress.com/2011/12/46.jpg

Dulu, saat masih kuliah S.1 di Jurusan Hadits, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo ia pernah ditawarkan dengan seorang mahasiswi oleh temannya yang telah menikah. Tapi saat itu ia menolak tawaran tersebut. Obsesinya untuk menyelesaikan S.2 lebih kuat mengalahkan keinginan untuk menikah. Namun kini, ia merasa dirinya harus segera menyempurnakan separuh agamanya. Ia membutuhkan seorang pendamping yang menjadi tempatnya berlabuh dan menumpahkan berbagai cerita dan gelisah jiwanya. Apalagi desakan dari Ibunya membuatnya tidak lagi bisa berdiam diri.

Ia sendiri heran, kenapa dorongan untuk menikah serasa kuat menyesak di rongga dadanya. Apakah saatnya telah tiba? Ia mencoba untuk banyak berpuasa, tapi puasa itu seakan tak mampu menundukkan gejolak itu. Berat. Hampir setiap malam ia menangis. Mengadukan perasaannya pada Sang Pencipta. Menumpahkan segala sesak di dada. Ia berdoa dalam tahajudnya yang panjang. Mengharap belas kasih dan curahan rahmat dari Sang Pemilik Jiwa.

“Selamat ya Fuad atas prestasi yang kamu raih dalam lomba Jaizah Dubes kemaren. Kapan jadi berangkat ke Australia?” Sapa Ustadz Jalal pada Fuad ketika Fuad berkunjung ke rumahnya.

“Insya Allah tanggal 14 Juli nanti, Ustadz.”

“Insya Allah, semoga urusannya lancar dan perjalanan kamu diberkahi Allah.”

“Amin, syukran doanya Ustadz.”

“Sama-sama akhi. Apa kesibukan kamu sekarang?”

“Fokus merampungkan Tesis S.2. Saya punya target tahun depan sudah bisa di-munaqasyahkan, insya Allah.”

“Insya Allah, akhi. Saya kagum dengan semangat dan kegigihanmu menuntut ilmu. Dalam usia yang masih muda, kamu akan menyelesaikan S.2-mu.”

“Biasa saja Ustadz. Belum sepadan dengan prestasi yang pernah Ustadz raih,” balas Fuad penuh senyum.

“Kamu terlalu merendah Akhi, saya senang bisa mengenalmu. Jarang lho di Al-Azhar ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan S.2-nya pada usia 26 tahun.”

“Seharusnya saya yang merasa senang bisa berkenalan dengan kandidat Doktor Jurusan Tafsir di Universitas Al-Azhar,” jawab Fuad tak mau kalah.

“Ah, kamu terlalu berlebihan memuji saya akhi. Begini Akhi, mungkin lansung saja ya pada inti pembicaraan. Saya diberi amanah oleh kakak saya di Indonesia untuk mencarikan calon suami untuk anaknya. Selama ini saya mengamati mahasiswa-mahasiswa yang saya kenal termasuk akhi. Setelah saya coba pikirkan dan bicarakan dengan istri saya, saya melihat akhi orang yang tepat.”

“Afwan Ustadz, saya kira Ustadz keliru dan terlalu berlebihan menilai saya. Saya hanya orang yang biasa saja.”

“Tidak Akhi. Penilaian ini bukan asal-asalan. Tapi setelah sekian lama saya mengamati kehidupan Akhi. Kalau akhi berminat dan telah punya keinginan untuk menikah, kita bisa bicarakan lebih lanjut.”

“Apakah calon yang wanitanya di Indonesia Ustadz?”

“Tidak, dia kuliah di Jurusan Syariah Islamiyah, tingkat tiga.”

“Apa saya mengenalnya Ustadz?”

“Mungkin tidak. Sangat beda dengan akhi, kalau akhi seorang aktivis dia sebaliknya. Tidak banyak yang mengenalnya.”

“Apa dia sendiri telah siap menikah Ustadz?”

“Insya Allah, kalau dia gak ada masalah. Ia selalu menuruti keinginan orang tuanya. Dia anak yang penurut. Kalau akhi bagaimana, apa sudah punya calon?”

“Belum Ustadz.”

“Berarti pas sekali,” tanggap Ustadz Jalal penuh riang dan menunjukkan wajah cerah.

“Tapi Ustadz, saya butuh waktu untuk mencerna dan mempertimbangkannya. Saya belum bisa memberi jawaban sekarang. Saya butuh waktu seminggu untuk memberi jawaban pada Ustadz.”

“Tidak mengapa akhi. Saya bisa maklum. Silahkan ditimbang dulu dengan matang. Jika akhi menyetujui saya sangat senang sekali. Namun bila sebaliknya, tidak mengapa, saya akan mencoba menawarkan pada yang lain.”

“Insya Allah Ustadz, akan saya istikharahkan pada Allah, semoga Allah menunjukkan yang terbaik, amin.”

“Amin.”

“Alhamdulillah, akhirnya amanah ini tersampaikan juga. Saya sangat senang sekali. Selamat Fuad kamu akan menikah sebentar lagi.”

“Doanya Ustadz, semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan baik.”

“Amin, semoga Allah selalu memberkahi kalian nantinya, amin. Fuad, ada satu hal yang sangat penting untuk kamu ketahui, calon istrimu itu cacat.”

Fuad sangat terkejut.

“Cacat maksud Ustadz bagaimana?”

“Cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan dan kedua kaki. Terkadang sering berbicara sendiri dan juga sering menangis tanpa sebab. Bagaimana, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?”

Fuad diam sejenak. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia menjawab.

“Insya Allah, saya siap Ustadz,” jawabnya dengan mantap.

“Ini keputusanmu?”

“Ini bukan keputusan saya Ustadz, tapi keputusan Allah. Saya telah meng-istikharahkan dan saya rasakan hati saya mantap dan teguh dengan pilihan ini. Saya yakin Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk saya.”

“Apa kamu tidak menyesal dengan pilihan yang telah kamu ambil?”

“Tidak Ustadz, sama sekali tidak. Bagi saya, pilihan Allah lebih baik dan mulia. Walau secara zahir itu berat dan mungkin menyakitkan, tapi saya rela dan ikhlas. Insya Allah ada pahala dan kebaikan disana menanti. Saya teringat ketika Nabi Ibrahim harus dilemparkan ke dalam api, saat itu beliau tidak gusar dan tidak takut sedikitpun, karena Allah selalu bersama hamba-Nya yang berserah pada-Nya. Atau ketika Nabi Ibrahim harus meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus demi memenuhi seruan Allah.”

“Saya kagum dan bangga padamu Fuad. Sebenarnya sejak awal saya ingin menceritakan padamu kondisi calonmu itu. Tapi, saat itu saya lupa untuk menyampaikannya. Maafkan atas kealpaan saya tersebut.”

“Tidak mengapa Ustadz, semuanya sudah terjadi, dan sebagai seorang hamba Allah kita wajib menerima kehendak takdir. Barangkali dalam takdir Allah saya harus menikah dengan seorang wanita yang cacat. Saya ikhlas Ustadz. Mungkin disana pula sumber pahala saya dari Allah. Berkhidmah pada hamba-Nya yang cacat.”

“Tapi apakah akhi tidak mencoba mencari wanita lain yang lebih baik dan sempurna?”

“Sebenarnya pada saat Ustdaz menawarkan anak dari kakak Ustadz pada saya, dua hari sebelumnya saya juga ditawarlan oleh teman saya, bahwa teman istrinya juga lagi mencari calon suami. Dan sebelumnya juga ada tawaran. Karena itu saya meminta pada Ustadz agar memberi saya waktu satu minggu untuk istikharah. Karena ada tiga wanita yang akan saya istikharahkan. Saya perlu waktu yang lama untuk memikirkan dan memutuskan dengan matang.”

“O begitu, saya baru paham. Kekuatan apa lagi yang menguatkan langkahmu untuk menjatuhkan pilihan pada anak kakak saya tersebut?”

“Istikharah dan mimpi kedua orang tua saya Ustadz. Kami mengalami mimpi yang sama dan merasakan ketentraman serta kemantapan hati yang sama.”

“Saya kagum padamu akhi, saya merasa tidak salah memilih dan menilai selama ini. Akhi adalah orang yang tepat. Semoga Allah merahmati hidupmu dan keluarga yang akan akhi bina nantinya, amin,” ucap Ustadz Jalal dengan wajah berbinar-binar.

Satu minggu berlalu setelah pernikahan, Fuad menemui Ustadz Jalal Fakhruddin di rumahnya, di Bawwabah Tiga.

“Bagaimana kabarnya Fuad? Kamu terlihat sangat cerah dan lebih segar sekarang.”

“Alhamdulillah Ustadz. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang Ia curahkan.”

“Ada yang ingin saya tanyakan tentang cerita Ustadz kemaren. Ustadz mengatakan bahwa istri saya cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua kaki dan tangan. Sering berbicara sendiri dan kadang suka menangis tanpa sebab. Saya telah mengetahui dua jawaban yang terakhir. Saya menyadari bahwa istri saya memang sering terlihat seolah berbicara sendiri. Awalnya saya heran. Tapi setelah saya tanyakan dan mendengar dari dekat, ia tengah berzikir, menyebut nama Allah, terkadang bershalawat pada Rasulullah, dan membaca al-Quran. Saya perhatikan ia melakukannya setiap hari, setiap waktu, tanpa henti. Sewaktu menyapu rumah, mencuci piring, menjemur pakaian, memasak, lisannya seolah tak pernah berhenti berzikir. Begitu juga saat bepergian ke luar rumah. Adapun yang Ustadz katakan, bahwa ia terkadang sering menangis tanpa sebab, saya hampir mendapati itu tiap hari juga. Ketika saya tanyakan, ia menjawab bahwa ia teringat akan dosa-dosanya pada Allah, takut jika amalnya tidak diterima, teringat azab dalam kubur, mahsyar, hari penghisaban, shirat dan siksa neraka. Jika teringat akan hal itu air matanya sering meleleh. Itulah yang saya ketahui. Sedangkan cacat pendengaran, penglihatan, lisan, kedua tangan serta kaki itu, saya tidak mendapatkan. Saya perhatikan semuanya baik dan sehat.”

“Akhi Fuad, alhamdulillah akhi telah menemukan jawabannya. Sedangkan maksud saya cacat pendengaran adalah, telinganya tidak pernah mendengarkan perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tidak pernah mendengarkan musik dan segala lagu-lagu yang merusak iman dan jiwa. Sesungguhnya yang selalu menjadi penghibur dirinya adalah al-Quran dan nasehat-nasehat para ulama. Cacat penglihatan adalah tidak pernah melihat pada yang haram, seperti menonton film yang di dalamnya syahwat diumbar, bisa saya katakan, matanya selalu terjaga dari melihat segala hal yang mengudang dosa dan maksiat. Dan cacat lisan adalah ia tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki, baik melalui sms, telpon, chating di YM, di FB dan seterusnya. Ia sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis. Lisannya terjaga dari komunikasi dengan lawan jenis. Adapun cacat tangan adalah tidak pernah berbuat yang nista dan tercela. Sedangkan cacat kaki adalah selalu terjaga dari menempuh tempat-tempat maksiat. Selama di Mesir kakinya hanya melangkah untuk ke mesjid, majlis-majlis ilmu, bersilaturahmi, tidak pernah pergi ke warnet, mengikuti acara-acara yang di dalamnya bercampur laki-laki dan perempuan. Begitulah akhi, penjelasan singkatnya. Nanti setelah hidup lebih lama dengannya akhi akan banyak mengetahui tentang dirinya.”

“Saya bersyukur Ustadz, inilah rupanya rahasia di balik petuntuk yang Allah berikan, dan hasil dari istikharah saya selama ini dan juga mimpi saya. Saya melihat dalam mimpi sebuah cahaya yang begitu terang, meneduhkan, menyejukkan, dan beraroma harum seperti kasturi.”

Air mata Fuad menetes penuh bahagia, ia lalu bersujud syukur. Ia telah dikaruniai seorang wanita sorga yang dihadirkan Allah ke bumi. Wanita yang selalu menjadi buah bibir penduduk langit karena ketaatannya. Ia teringat dengan hadits Rasulullah. Walau di bumi istrinya tidak dikenal banyak orang tapi di langit, ia yakin istrinya selalu disebut dan didoakan oleh para malaikat.

 

Sumber: https://www.facebook.com/notes/yusuf-mansur-network/muslimah-penghuni-dua-syurga/10150225525200210

Ini Dia! 6 Sikap Istri Idaman Para Suami

Setiap pria memiliki harapan tersendiri mengenai pasangan hidupnya. Ada beberapa faktor yang diharapkan pria dari istrinya mulai dari sifat sampai kebiasaan sehari-hari. Ini dia enam sikap istri yang menjadi idaman para suami.

1. Penurut
Menurut survei yang dilakukan oleh ezinearticle, kebanyakan suami ingin memiliki istri yang selalu patuh. Mereka ingin agar semua pendapatnya didengar, kecuali jika perkataanya menyuruh istri untuk berlaku buruk. Tetapi dalam kasus tersebut, pria ingin agar istri mau menolak perkataan itu dengan baik dan penjelasan yang masuk akal.

2. Mau Berterimakasih dan Sering Memuji
Menurut para suami, mendapatkan ucapan ‘terima kasih’ serta pujian atas apa yang telah dilakukannya untuk Anda, dapat membuat dirinya merasa bahagia serta dihargai. Ada kalanya suami mengorbankan waktu, tenaga dan uang untuk membuat istrinya merasa senang atau paling tidak, merasa aman. Di saat itulah, Anda ‘wajib’ menunjukkan rasa terimakasih dan berikan perhargaan padanya.

3. Bisa Berperan Sebagai Sahabat
Selain sebagai pendamping hidup, suami ingin istrinya juga memiliki peran sebagai teman. Dalam perannya itu, suami ingin agar istri menjadi tempat berbagi kegembiraan-kesedihan, memberikan saran, dan memiliki minat yang sama. Pada kenyataannya, tidak banyak istri yang menyadari hal ini. Saat hal itu terjadi, bukannya tak mungkin jika suami jadi lebih intim ketika bersama teman-temannya dibanding ketika dengan Anda.

4. Membuatnya Menjadi Seseorang yang Lebih Baik
Di balik pria yang sukses ada wanita yang hebat. Inilah yang diinginkan oleh banyak pria, wanita yang selalu mendukung dan mendorongnya untuk menjadi individu yang lebih baik. Para suami ingin agar sang istri selalu ada di ‘belakangnya’ saat sedang berada dalam masa sulit dan mendorongnya untuk mampu mengatasi hal tersebut.

5. Pandai Mengatur Tugas Rumah Tangga
Para suami juga mengatakan bahwa memiliki istri yang mahir merawat anak, akan membuat diri mereka merasa aman saat berada di luar rumah. Selain itu, para suami juga menginginkan istri yang pandai mengatur tugas rumah tangga, mulai dari masalah kebersihan hingga makanan.

6. Pintar Mengatur Uang
Menurut suami, hal tersebut sangat membantu mereka dalam mengelola anggaran keuangan secara efektif. Selain itu, pria juga berpikir bahwa wanita memiliki kemampuan mengatur keuangan melebihi para pria.

 

Sumber: http://wolipop.detik.com/read/2013/11/28/180900/2426783/854/ini-dia-6-sikap-istri-idaman-para-suami?991104topnews

Riset: Pria yang Memiliki Istri Cantik = Pernikahan Bahagia

http://yulianurz.files.wordpress.com/2012/02/akhwat.jpg

Apa resep pernikahan bahagia? Riset terbaru mengungkapkan salah satu kunci memiliki pernikahan yang memuaskan adalah ketika istri berpenampilan menarik.

Riset yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology itu dilakukan oleh psikolog Andrea Meltzer. Andrea melakukan riset terhadap 450 pasangan pengantin baru selama empat tahun. Pertanyaan penelitiannya adalah: apakah suami atau istri cantik atau tampan mempengaruhi kepuasaan pada pernikahan?

Setelah diteliti, jawaban dari pertanyaan itu adalah, pada pria, penampilan atau wajah cantik istri berperan menentukan kepuasaan mereka pada pernikahan. Teori ini hanya berlaku pada pria, tidak untuk wanita.

Meskipun teori di atas tidak berlaku sebaliknya, para istri berpenampilan menarik juga mengaku bahagia dengan pernikahannya. Namun alasan bahagia mereka berbeda. Para istri ini merasa puas dengan pernikahan mereka karena memiliki suami yang juga bahagia.

Hasil riset Andrea ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Benjamin Karney, direktur di Relationship Institute, Universitas California. Riset dilakukan Karney sejak dia masih kuliah di Universitas Florida. Saat itu ada 82 pasangan pengantin baru yang jadi respondennya. Penelitiannya kemudian dilanjutkan ketika dia bergabung dengan Universitas California pada 2007.

Berdasarkan penelitian Karney, ketika wanita berwajah cantik menikah dengan pria yang penampilannya kurang menarik, kemungkinan pasangan itu memiliki pernikahan yang memuaskan menjadi meningkat. “Suami yang penampilannya kurang menarik ini jadi lebih berkomitmen, mereka menginvestasikan diri untuk membahagiakan istri ketika mereka merasa mendapatkan kesepakatan yang juga menarik. Karena bagi pria, kecantikan istri tersebut merupakan bagian dari kesepakatan itu,” ujarnya seperti dikutip Huffington Post.

Hal berbeda ditemukan Karney ketika si pria memiliki wajah tampan, sementara istri mereka berpenampilan kurang menarik. “Para pria ini menjadi tidak terlalu termotivasi untuk membantu istri ketika mereka merasa lebih menarik dari istri mereka,” ucapnya lagi.

 

Sumber: http://wolipop.detik.com/read/2013/11/20/083841/2417818/854/riset-pria-yang-memiliki-istri-cantik–pernikahan-bahagia

Cara Menghadapi Suami yang Egois, Tidak Mau Dengar Pendapat Istri

img

Riset menyebutkan masalah komunikasi menjadi penyebab nomer satu pasangan cerai. Riset yang dibuat oleh situs Your Tango itu melibatkan100 ahli kesehatan mental sebagai responden. Penelitian dilakukan pada 6 November dan 12 November 2013 lalu.

Dari riset itu diketahui 65% responden menyebutkan komunikasi yang menjadi penyebab paling banyak pasangan mengakhiri rumah tangga. Masalah komunikasi seperti apa yang membuat pasangan cerai? Salah satunya adalah wanita merasa kurang dihargai pendapat dan perasaannya (80%), dan wanita menganggap pasangan mereka tidak mau mendengarkan atau terlalu banyak membicarakan diri mereka sendiri (56%).

Bagaimana cara menghadapi suami yang egois seperti ini? Psikolog Ratih Ibrahim mengatakan, bukan tanpa sebab suami jadi kurang menghargai pendapat Anda. Dikatakan Ratih, kesibukan suami terkadang menyita banyak waktu di luar rumah sehingga menyebabkan ia merasa lelah karena energi yang sudah banyak terkuras.

“Pada saat suami berada di rumah (bersama dengan istri) ia merasa bahwa dirinya harus dipahami, dilayani,” ujar Ratih yang mengasuh konsultasi cinta di wolipop.

Melihat situasi tersebut, Ratih menyarankan agar para istri mengenali kapan waktu yang tepat untuk mengajak suami bicara. Apalagi jika dalam obrolan tersebut, istri bermaksud memberikan kritikan pada pasangan.

“Perhatikan juga kata-kata yang diucapkan agar suami tidak merasa disalahkan. Suami akan mudah menerima masukkan atau kritikan di saat kamu dan suami sedang bermesraan, dan lebih banyak menggunakan kata “saya” daripada “kamu”, jelas pendiri Conseling and Development Center PT Personal Growth itu.

Ratih mencontohkan, misalnya Anda hendak meminta suami agar tidak terus-menerus pulang larut malam. Kalimat yang bisa dikatakan misalnya, “saya akan sangat senang kalau kamu pulang lebih awal, sehingga kita lebih banyak waktu untuk berdua”.

Kalimat ini bisa membuat suami paham akan keinginan kita dan ia tidak merasa disalahkan. Kalimat yang tidak langsung menyalahkan suami, bisa membuatnya sadar diri. Sehingga hubungan dengan suami ke depannya juga dapat terjalin lebih baik lagi.

 

 

Sumber: http://wolipop.detik.com/read/2013/11/25/093856/2422228/854/cara-menghadapi-suami-yang-egois-tidak-mau-dengar-pendapat-istri

WordPress Themes