Tujuan Itu… Membaikkan

“Kalau kita tidak tahu akan kemana, maka kita tidak akan sampai di mana-mana”

Berbicara tentang tujuan hidup, pada dasarnya dalam melakukan segala hal manusia itu secara alamiah sudah memiliki tujuan (niat) dan alasan. Bahkan saat melamun pun kita memiliki tujuan, untuk merelekskan otak kita, betul tidak? Tidur kita pun memiliki tujuan yang jelas, untuk menyalurkan rasa kantuk atau rasa capek kita, iya kan?

Nah… Hanya saja kita sering salah dalam memilih tujuan, dan parahnya lagi kita tidak mau jujur pada diri kita sendiri kalau tujuan kita salah. Sering kali tujuan kita hanya untuk sebuah kesia-siaan (tak berarti), karena itulah kita tidak berani menyebutnya TUJUAN.

Oke, lantas bagaimana Tujuan yang benar dan penuh arti?

Tujuan Tuhan Menciptakan Manusia
Dalam kitab suci Al – Qur’an (dan saya kira ini juga berlaku untuk semua kitab suci), Tuhan menjelaskan bahwa Beliau menciptakan manusia hanya untuk dua hal :

  1. Menjadi Pemimpin (Pengelola) di bumi ini
  2. Menjadi Hamba yang taat pada Tuhan sebagai wujud syukur kita atas semua karunia-Nya.

Hanya dua tujuan, sangat sederhana bukan ? Dari jumlahnya memang kelihatan sangat sederhana, tapi tidak sederhana pada pelaksanaanya !

Tujuan itu HARUS Membaikkan !
Walaupun pada dasarnya dalam melakukan setiap hal manusia sudah memiliki tujuan (niat) yang jelas, hanya saja kita seringkali tidak berani mengatakan itu tujuan kita, karena tidak benar-benar sesuai dengan hati kita. Ingat ! Hati kita adalah Alarm yang paling peka !

Saat ada yang tidak sesuai dengan hati, ia akan langsung berteriak. Hanya saja seringkali kita tidak mau mendengar apa kata hati kita, bahkan kita pura-pura tidak mendengarnya.

Dalam hidup ini, kita memang di haruskan memiliki tujuan (visi/cita-cita) hidup yang jelas. Kenapa? Agar hidup kita selalu terarah. Dan kita selalu membuat kemajuan (progress) dalam hidup kita.

Tapi tadi katanya setiap manusia sudah memiliki tujuan, berarti sebenarnya setiap manusia sudah memiliki tujuan hidup dong?

Tidak…

Tidak semua manusia berani memikirkan bahkan merencanakan masa depan. Seringkali kita terlalu takut dengan masa depan kita, sehingga tidak semua dari kita berani memiliki tujuan hidup yang jelas. Padahal, kebaikan masa depan kita ditentukan oleh kebaikan yang kita lakukan hari ini (Mario Teguh).

Ada juga yang bertanya: Saya sudah memiliki tujuan yang jelas, apakah saya harus memperjuangkannya mati-matian ?

Harus itu ! Tujuan hidup kita harus di perjuangkan. Tapi tunggu dulu…

Ada satu masalah lagi, setelah kita memiliki tujuan hidup yang jelas, kita masih harus menguji apakah tujuan hidup itu “membaikkan?”. Nah… Tujuan hidup yang membaikkan itulah yang harus kita perjuangkan.

Saya menggunakan kata “membaikkan”, bukan ‘baik’. Kenapa? Karena kata ‘baik’ itu hanya berorientasi (mengarah) pada hasil, dan tidak mempengaruhi apapun. Tapi kalau kata “membaikkan” itu tertuju pada proses dan hasil, serta akan memiliki pengaruh pada sekelilingnya.  (Mohon dikoreksi jika ada yang salah dalam saya mengartikan kedua kata itu :) ).

Lalu, bagaimana Tujuan Hidup yang membaikkan itu?

Tujuan hidup itu HARUS membaikkan 4 hal berikut, semuanya harus tercakup, tidak boleh terpisah. Yaitu:

  1. Membaikkan TUHAN kita
  2. Membaikkan DIRI kita
  3. Membaikkan ORANG TUA kita
  4. Membaikkan LINGKUNGAN SEKITAR kita.

Empat elemen di atas tidak boleh dipisah-pisahkan. Karena percuma kita memiliki tujuan yang baik, tapi dalam pelaksanaannya harus ada yang tersakiti. Iya kan?

Saya kira 4 elemen tadi sudah mencakup 2 tujuan Tuhan dalam menciptakan kita (manusia) di bumi. Karena saat kita MEMBAIKKAN TUHAN kita, maka sesungguhnya kita adalah hamba Tuhan sejati. Dan saat kita bisa MEMBAIKKAN ORANG TUA dan LINGKUNGAN SEKITAR kita, maka kita adalah seorang pemimpin yang sejati.

Saat manusia masih muda (usia 15 – 20 thn), saat mereka sedang mencari tujuan hidupnya, mereka selalu dibayang-bayangi dengan pertanyaan “Bagaimana kalau tujuanku tidak disetujui orang tuaku?”

Saudaraku.. Kalau kita yakin Tujuan kita Membaikkan, kita tidak perlu takut untuk menyampaikannya ke orang tua kita. Tapi sampaikanlah dengan penuh hormat, santun, dan penuh kasih sayang. Tidak ada tujuan baik yang dikotori dengan prilaku yang tidak baik. Sampaikanlah keinginan (tujuan) kita ke orang tua kita, jika mereka tidak setuju tanyakan alasan mereka. Lalu renungkanlah alasan orang tua kita itu, pasti ada yang bisa kita terima.

Ingat, orang tua kita jauh lebih mengerti tentang kehidupan ini. Jadi TURUTI apa kata mereka. Jika keinginan kita tidak sesuai dengan keinginan orang tua kita, turuti keinginan orang tua kita. Kalau kita yakin bahwa tujuan (keinginan) kita membaikkan, maka sambil menuruti keinginan orang tua kita, tetaplah fokus untuk meraih mimpi kita. Buktikan bahwa kita bisa meraih mimpi kita dan MEMBUAT orang tua kita BANGGA.

Tapi jika dalam usaha meraih mimpi kita ada keburukan yang kita dapat, maka kita harus berani MENANGGUNG SENDIRI akibat yang ada TANPA melibatkan orang tua kita.

Mungkin ada yang bertanya, apa TUJUAN HIDUP saya? (PD.com, hhe..)

Saat ini tujuan hidup saya adalah ‘mendapatkan sebanyak mungkin ucapan TERIMA KASIH’.

Kenapa?

Karena saat ada orang yang mengucapkan ‘terima kasih’ pada saya, itu berarti saya sudah bermanfaat bagi orang tersebut. Dan agama saya mengajarkan “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya (serta lingkungannya)”. Itulah cita-cita terbesar saya… ^_^

“Orang yang memiliki harapan (keinginan/tujuan) akan selalu bisa melihat kemudahan dalam kesulitan”.

Bagaimana? apakah anda setuju dengan saya? :)

Terima kasih sudah berkenan membaca catatan saya,

Salam hormat,
^_^
Siddiq

No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

WordPress Themes